Tag: kuliah teknologi informasi

  • Program Studi Bisnis Digital UNIKOM: Siapkan Generasi Entrepreneur Digital Masa Depan

    Program Studi Bisnis Digital UNIKOM: Siapkan Generasi Entrepreneur Digital Masa Depan

    BANDUNG, UNIKOM — Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) terus memperkuat komitmennya dalam menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri melalui Program Studi (Prodi) Bisnis Digital. Berada di bawah naungan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK), Prodi Bisnis Digital UNIKOM hadir dengan pendekatan lintas disiplin yang memadukan ilmu manajemen, pemasaran, sistem informasi, informatika, analitik data, serta kewirausahaan digital.

    Wakil Rektor III Bidang Riset, Inovasi dan Akreditasi UNIKOM sekaligus Dekan FTIK Assoc. Prof. Dr. Ir. Herman S. Soegoto, MBA., menjelaskan bahwa kehadiran Prodi Bisnis Digital didorong oleh kebutuhan akan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami konsep bisnis dan manajemen, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi digital dalam praktiknya. “Target kami adalah mendidik mahasiswa menjadi profesional yang memahami ilmu manajemen, tetapi juga memahami ilmu digital. Kami mengkombinasikan manajemen, pemasaran, perilaku konsumen digital, analitik data, dan sistem informasi menjadi satu kesatuan yang dibutuhkan mahasiswa dalam membangun karir ke depan”, ungkapnya.

    Menurutnya, karakteristik tersebut menjadi salah satu pembeda Bisnis Digital UNIKOM dengan program studi sejenis. Karena berada di lingkungan FTIK, mahasiswa memperoleh penguatan aspek teknologi sekaligus pemahaman bisnis dan pemasaran. Kurikulum juga diarahkan untuk membangun kemampuan kewirausahaan berbasis teknologi digital sehingga mahasiswa tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menciptakan peluang usaha.

    Kurikulum Empat Tahun, dari Dasar hingga Proyek Bisnis

    Sementara itu, Ketua Program Studi Bisnis Digital UNIKOM, Bella Hardiyana, S.Kom, M.Kom., Ph.D., menjelaskan bahwa kurikulum S1 Bisnis Digital dirancang untuk ditempuh selama empat tahun atau delapan semester dengan tahapan pembelajaran yang sistematis.

    Pada tahun pertama, mahasiswa mendapatkan fondasi dasar bisnis, manajemen, teknologi, dan bidang terkait. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan untuk mengikuti pembelajaran tanpa harus memiliki kemampuan awal tertentu dalam bidang manajemen, bisnis, maupun pemrograman.

    Memasuki tahun kedua, mahasiswa diarahkan pada penguatan kompetensi inti Bisnis Digital. Selanjutnya, pada tahun ketiga, mahasiswa mendapatkan kesempatan memperluas pengalaman melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), termasuk magang maupun pembelajaran lintas program studi dan perguruan tinggi. “Bisnis itu pintunya bisa dari mana saja. Karena itu, mahasiswa diberikan kesempatan untuk belajar di program studi maupun universitas lain melalui program MBKM,” jelas Bella.

    Sementara itu, tahun keempat difokuskan pada pengembangan proyek bisnis digital dan penyelesaian skripsi. Dengan desain tersebut, mahasiswa diarahkan untuk menghasilkan karya dan pengalaman praktis yang relevan dengan bidang yang akan mereka tekuni setelah lulus.

    AI Menjadi Rekan Belajar dan Penggerak Bisnis

    Sebagai bagian dari UNIKOM yang mengembangkan ekosistem AI Ready, penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi salah satu penguatan penting dalam pembelajaran Bisnis Digital. Disisi lain, Assoc. Prof. Dr. Ir. Herman juga menegaskan bahwa AI telah dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum dan penguatan berbagai mata kuliah. AI tidak hanya diposisikan sebagai materi pembelajaran, tetapi juga sebagai alat bantu yang dapat dimanfaatkan mahasiswa dalam menjalankan aktivitas profesional maupun kewirausahaan.

    Sejalan dengan hal tersebut, Bella Ph.D., menyampaikan bahwa mahasiswa akan diperkenalkan pada pemanfaatan AI melalui sejumlah bidang pembelajaran, termasuk Machine Learning, Business Intelligence, dan AI for Business. “Di program studi Bisnis Digital, AI itu menjadi teman. Kita tidak bermusuhan dengan AI. AI menjadi rekanan kita. Kita ingin mahasiswa mampu memanfaatkan AI sebagai asisten dalam menjalankan bisnis”, jelasnya. Pendekatan tersebut diharapkan membuat mahasiswa tidak sekadar memahami teknologi AI secara konseptual, tetapi mampu menggunakannya untuk menganalisis data, memahami konsumen, meningkatkan efisiensi, mengembangkan strategi pemasaran, hingga mendukung pengambilan keputusan bisnis.

    Diperkuat Praktikum, Magang, dan Sertifikasi

    Untuk memastikan kompetensi mahasiswa tidak berhenti pada teori, Prodi Bisnis Digital UNIKOM menempatkan kegiatan praktikum dan implementasi sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa didorong untuk mengubah pengetahuan yang diperoleh di kelas menjadi produk, proyek, maupun model bisnis yang dapat dikembangkan secara nyata.

    Selain itu, mahasiswa memiliki peluang mengikuti program magang melalui MBKM serta memperoleh penguatan kompetensi melalui berbagai kolaborasi yang telah dikembangkan UNIKOM. Dukungan kerja sama dengan mitra seperti Google, Cisco, dan BNSP juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan sertifikasi yang dapat memperkuat kesiapan mereka memasuki dunia profesional.

    Kolaborasi dengan dunia industri dan berbagai mitra tersebut terus dikembangkan untuk memberikan pengalaman yang semakin relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan perkembangan teknologi.

    Menargetkan Lulusan Profesional sekaligus Entrepreneur Digital

    Prodi Bisnis Digital UNIKOM menargetkan lulusan yang memiliki kemampuan lintas bidang dan mampu beradaptasi dengan dinamika industri digital. Lulusan tidak hanya diarahkan untuk bekerja sebagai profesional, tetapi juga memiliki kemampuan membangun dan mengembangkan bisnis berbasis teknologi. Profil karir yang dapat dikembangkan antara lain digital entrepreneur, business analyst, digital marketer, data/business intelligence specialist, product atau business development, serta berbagai profesi lain yang berkaitan dengan bisnis dan teknologi digital.

    Namun, sasaran utama pendidikan Bisnis Digital UNIKOM adalah membentuk lulusan yang mampu mengimplementasikan pengetahuan bisnis dan teknologi dalam kehidupan nyata. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya mengerti teori berbisnis, tetapi benar-benar bisa melakukan implementasi. Dari hal kecil pun tidak masalah, misalnya membangun toko online dengan menerapkan AI. Dari bisnis yang kecil, kemudian dikembangkan hingga menjadi lebih besar”, tutur Bella.

    Dengan demikian, capaian lulusan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kemampuan menciptakan, mengelola, dan mengembangkan solusi serta bisnis berbasis teknologi digital.

    From Zero to Hero Menuju Bisnis Digital Berdaya Saing

    Kehadiran Bisnis Digital UNIKOM menjadi bagian dari upaya universitas dalam menjawab perubahan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ekonomi digital. Dukungan ekosistem teknologi UNIKOM, pengalaman pada bidang informatika dan sistem informasi, serta kekuatan di bidang manajemen menjadi modal untuk membangun pendidikan Bisnis Digital yang terintegrasi.

    Assoc. Prof. Dr. Ir. Herman mengajak calon mahasiswa untuk tidak ragu memilih Prodi Bisnis Digital UNIKOM. Menurutnya, kekuatan program studi tersebut terletak pada integrasi berbagai bidang keilmuan yang selama ini telah berkembang di UNIKOM.

    Sementara itu, Bella, Ph.D., menekankan bahwa mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat bergabung dan berkembang melalui pembelajaran yang bertahap, mulai dari memahami konsep dasar hingga mampu menghasilkan karya dan membangun bisnis. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktikum. Dari yang awalnya belum bisa apa-apa, kita dampingi sampai bisa membuat sesuatu. Harapannya, mahasiswa dapat membangun bisnis dari skala kecil hingga berkembang dan mampu bersaing di tingkat internasional,” demikian pungkasnya.

    Melalui kurikulum berbasis bisnis dan teknologi, penguatan AI, pengalaman praktis, program MBKM, sertifikasi, serta kolaborasi dengan industri, Prodi Bisnis Digital UNIKOM menunjukan komitmennya untuk menghasilkan generasi profesional sekaligus entrepreneur digital yang kompeten, inovatif, dan siap menghadapi masa depan. (Direktorat Hms & Pro)

  • AI, IoT, dan Solusi Masa Depan: 50 Karya Mahasiswa Prodi Sistem Komputer dan Teknik Komputer FTIK UNIKOM Hadirkan Inovasi dan Teknologi di Pekan Pameran Tugas Akhir Semester Genap T.A. 2025–2026

    AI, IoT, dan Solusi Masa Depan: 50 Karya Mahasiswa Prodi Sistem Komputer dan Teknik Komputer FTIK UNIKOM Hadirkan Inovasi dan Teknologi di Pekan Pameran Tugas Akhir Semester Genap T.A. 2025–2026

    BANDUNG, UNIKOM – Kreativitas dan inovasi mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) kembali ditunjukkan melalui Pekan Pameran Hasil Penelitian Mahasiswa Program Studi Sistem Komputer dan Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) UNIKOM, yang digelar pada 23 Juli 2026 di Plataran Lantai 7 UNIKOM. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memamerkan berbagai karya dan produk teknologi yang dikembangkan melalui penelitian, tugas akhir, maupun proyek perkuliahan sebagai tugas Ujian Akhir Semester (UAS) semester Genap Tahun Akademik 2025-2026.

    Pameran tersebut menghadirkan sekitar 50 karya mahasiswa dengan beragam tema dan penerapan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), Machine Learning, dan Internet of Things (IoT). Tidak hanya menjadi ajang showcase, kegiatan tersebut juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh mahasiswa di bangku perkuliahan diterjemahkan menjadi solusi teknologi yang berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Ketua Program Studi Sistem Komputer UNIKOM, Assoc. Prof. Dr. Hidayat, S.Kom., M.T., menjelaskan bahwa kegiatan pameran hasil karya mahasiswa tersebut telah dilaksanakan secara rutin selama tiga tahun terakhir dan menjadi agenda tahunan yang umumnya diselenggarakan pada semester genap. “Ini sudah kita laksanakan selama tiga tahun terakhir. Jadi setiap tahun kita selenggarakan, biasanya pada semester genap. Produk yang dipamerkan merupakan hasil skripsi mahasiswa, tugas dari beberapa mata kuliah yang memang mengarahkan mahasiswa untuk membuat produk, serta proyek akhir mahasiswa D3 Teknik Komputer dan beberapa proyek lainnya”,  jelasnya.

    Menurut Assoc. Prof. Dr. Hidayat, terdapat perkembangan yang cukup signifikan dari karya mahasiswa yang dipamerkan setiap tahunnya, baik dari sisi tema maupun pemanfaatan teknologi. Jika sebelumnya karya mahasiswa lebih beragam dalam penerapan teknologi, pada pameran tahun ini implementasi AI dan IoT semakin mendapat perhatian. “Yang membedakan setiap tahun salah satunya adalah tema yang dikembangkan mahasiswa. Intinya, produk-produk ini menerapkan apa yang dipelajari oleh mahasiswa. Mereka mampu menerapkan penelitian di bidang AI dan juga Internet of Things”, tuturnya.

    Lebih lanjut, Assoc. Prof. Dr. Hidayat mengatakan bahwa penerapan AI dan IoT dalam karya mahasiswa tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan produk teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat menjawab kebutuhan dan memberikan dampak nyata di berbagai bidang kehidupan. “Intinya kita ingin mahasiswa mampu mengaplikasikan pemahaman mereka tentang AI dan Internet of Things yang bisa berdampak kepada masyarakat, baik di bidang pendidikan, sosial, bahkan kesehatan”, ungkapnya.

    Sejumlah karya bahkan telah mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di bidang kesehatan, misalnya, terdapat karya yang memanfaatkan AI atau Machine Learning untuk prediksi dan klasifikasi status gizi, hingga teknologi yang dikembangkan untuk membantu pendeteksian kondisi jantung. Sementara itu, pada bidang lingkungan, mahasiswa menghadirkan konsep Smart Bin atau tempat sampah pintar yang memanfaatkan teknologi IoT untuk mendeteksi kondisi tempat sampah dan memberikan informasi ketika kapasitasnya telah penuh. Di bidang edukasi, terdapat pula karya yang mengangkat tema pengenalan sejarah, lapisan tanah, hingga pengenalan organ tubuh manusia dengan pendekatan teknologi interaktif.

    Keberagaman karya tersebut menunjukkan bahwa penguasaan teknologi tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang memiliki nilai guna dan relevansi dengan persoalan di masyarakat. Salah satu karya yang menarik perhatian dalam pameran tersebut adalah Smart Parking, sebuah prototipe sistem parkir otomatis yang dikembangkan oleh mahasiswa dengan memanfaatkan sejumlah komponen IoT.

    Kelompok pengembang Smart Parking prodi Sistem Komputer yang terdiri dari, Salsa Adila Casandra, Rafi Madani, Muhammad Reza Pahlevi, dan Mochammad Dava Somadyana menjelaskan bahwa ide tersebut berangkat dari permasalahan yang kerap ditemui pada area parkir, khususnya ketika pengguna kendaraan kesulitan mengetahui ketersediaan slot parkir. “Tujuan kita membuat alat ini karena melihat masih banyak tempat, seperti mal, yang belum menggunakan sistem parkir otomatis. Kita juga tidak tahu apakah masih ada slot parkir yang tersedia atau tidak. Karena itu kita membuat sistem data parkir otomatis”, ungkap Mohamad Reza.

    Dalam pengoperasiannya, Smart Parking menggunakan ESP, sensor ultrasonik, servo, LED, buzzer, project board, dan kabel jumper. Sensor digunakan untuk mendeteksi kendaraan yang masuk maupun keluar, kemudian sistem akan memperbarui informasi jumlah slot parkir yang masih tersedia. “Ketika mobil masuk, sensor akan mendeteksi ada mobil masuk. Di tampilan akan terlihat slot parkir yang kosong dan yang terisi. Ketika kendaraan keluar, sistem akan membaca kembali sehingga jumlah slot kosong dan terisi akan berubah secara otomatis”, jelasnya.

    Prototipe tersebut dikembangkan dalam waktu sekitar satu minggu sebagai bagian dari tugas Ujian Akhir Semester (UAS) semester genap TA 2025-2026. Ke depan, mahasiswa berharap Smart Parking dapat dikembangkan dan diterapkan pada lingkungan yang membutuhkan sistem pengelolaan parkir secara lebih efektif, termasuk kawasan rumah susun (rusun). Tidak berhenti pada sistem pendeteksi ketersediaan lahan parkir, mahasiswa juga telah menyiapkan gagasan pengembangan berupa sistem akses berbasis kartu. Dengan sistem tersebut, setiap penghuni rusun yang memiliki kartu dapat memperoleh akses untuk memasuki area parkir secara lebih terkontrol.

    Bagi Assoc. Prof. Dr. Hidayat, berbagai karya yang ditampilkan dalam pameran tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran sekaligus langkah awal untuk membawa inovasi mahasiswa agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas. “Harapannya, produk-produk ini tidak berhenti di sini, tidak berhenti di pameran, tetapi bisa benar-benar diterapkan dan digunakan oleh masyarakat”, tegasnya.

    Pekan Pameran Hasil Penelitian Mahasiswa tersebut sekaligus memperkuat komitmen FTIK UNIKOM dalam membangun budaya inovasi dan penelitian di kalangan mahasiswa. Melalui pengalaman merancang, mengembangkan, menguji, dan mempresentasikan produk, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan solusi teknologi yang aplikatif. “Teman-teman siswa SMA yang sudah lulus dan sedang mencari kampus, khususnya yang tertarik dengan AI dan Internet of Things, boleh bergabung dengan Program Studi Sistem Komputer UNIKOM untuk jenjang S1. Bagi yang ingin menempuh pendidikan lebih cepat, tersedia juga Program Studi D3 Teknik Komputer. Kita bersama-sama belajar tentang AI, IoT, dan bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat”, demikian pungkasnya. Melalui pameran Prodi Sistem Komputer dan Teknik Komputer tersebut, UNIKOM terus mendorong lahirnya generasi mahasiswa yang tidak hanya melek teknologi, tetapi mampu menjadi problem solver dan inovator yang menghadirkan teknologi berbasis AI dan IoT untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, karya mahasiswa diharapkan dapat berkembang dari prototipe akademik menjadi inovasi yang memiliki nilai guna, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. (Direktorat Hms & Pro)

  • Sampah Terdata, Lingkungan Tertata: KKN Berdampak 2026 UNIKOM di Kecamatan Coblong, Bangun Model Pengelolaan Sampah Berbasis Teknologi Menuju Zero Waste

    Sampah Terdata, Lingkungan Tertata: KKN Berdampak 2026 UNIKOM di Kecamatan Coblong, Bangun Model Pengelolaan Sampah Berbasis Teknologi Menuju Zero Waste

    BANDUNG, UNIKOM — Dalam memperkuat komitmennya menghadirkan pendidikan tinggi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kecamatan Coblong melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak 2026. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pengelolaan sampah sekaligus membangun ruang pembelajaran bagi mahasiswa melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat.

    Fokus utama KKN Berdampak di Kecamatan Coblong mencakup edukasi pemilahan sampah dari sumber, pendampingan masyarakat, penguatan tata kelola, pendataan berbasis teknologi, hingga pengembangan ekonomi sirkular. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari kontribusi UNIKOM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pembangunan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan, pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, aksi terhadap perubahan iklim, serta penguatan kemitraan multipihak. Sebagai bagian dari implementasi program tersebut, UNIKOM secara resmi menurunkan mahasiswa peserta KKN Berdampak ke Kecamatan Coblong pada 12 Agustus 2026. Sekitar 569 mahasiswa dilibatkan untuk berkolaborasi secara langsung dengan masyarakat dan berbagai unsur pemerintahan wilayah dalam menjalankan program pengelolaan sampah yang telah disiapkan.

    PIC sekaligus Koordinator Program KKN Berdampak UNIKOM, Dr. Nungki Heriyati, S.S., M.A., menjelaskan bahwa KKN Berdampak merupakan bentuk kolaborasi UNIKOM dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dirancang untuk menghubungkan proses pembelajaran mahasiswa dengan persoalan nyata di masyarakat. “Pada kesempatan ini UNIKOM menerjunkan kurang lebih 569 mahasiswa ke Kecamatan Coblong. Fokus utamanya adalah pengentasan persoalan sampah, khususnya di wilayah Kecamatan Coblong”, jelas Dr. Nungki.

    Para mahasiswa akan berkolaborasi dengan unsur kelurahan, petugas pengelolaan sampah, serta masyarakat di tingkat RW dan RT. Kolaborasi tersebut diarahkan terutama untuk memberikan edukasi mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah, sekaligus mendampingi masyarakat agar praktik tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan.

    KKN Berdampak sebagai Implementasi SDGs

    Pengelolaan sampah yang menjadi fokus KKN Berdampak memiliki keterkaitan langsung dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan. Melalui upaya membangun lingkungan permukiman yang lebih bersih, sehat, tertata, dan berkelanjutan, program ini mendukung SDG 11: Sustainable Cities and Communities. Edukasi pemilahan sampah dari rumah, pengurangan sampah, pemanfaatan kembali material, serta pengembangan ekonomi sirkular juga sejalan dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production.

    Di sisi lain, pengurangan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dan pemanfaatan kembali material memiliki relevansi dengan upaya mengurangi dampak lingkungan serta mendukung SDG 13: Climate Action. Sementara keterlibatan UNIKOM, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kecamatan Coblong, kelurahan, RT/RW, masyarakat, serta perangkat daerah terkait mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals.

    Mahasiswa Belajar, Masyarakat Mendapat Dampak

    Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNIKOM sekaligus Ketua Pelaksana KKN Berdampak UNIKOM 2026, Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., S.E., M.Si., menegaskan bahwa KKN Berdampak merupakan rangkaian pembelajaran yang telah dipersiapkan melalui pembekalan mahasiswa dan survei lapangan sebelum mahasiswa diterjunkan ke masyarakat. “Mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas. Melalui KKN Berdampak, mahasiswa belajar melihat kondisi nyata di lapangan, berkolaborasi dengan masyarakat, dan mengimplementasikan soft skill yang mereka miliki”, tutur, Prof. Umi.

    Untuk memastikan pelaksanaan KKN berjalan terarah dan terukur, mahasiswa didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). UNIKOM juga menyiapkan sistem digital untuk membantu memonitor aktivitas mahasiswa dan DPL di lapangan. Setiap aktivitas mahasiswa akan dicatat melalui sistem, termasuk lokasi, waktu, jenis kegiatan, serta dokumentasi pelaksanaan. Sistem tersebut dirancang untuk membantu memastikan mahasiswa menjalankan aktivitas sesuai program yang telah ditetapkan sekaligus menjadi bagian dari monitoring dan evaluasi.

    Dari sisi akademik, kegiatan KKN Berdampak juga terintegrasi dengan proses pembelajaran melalui skema rekognisi Satuan Kredit Semester (SKS). Dr. Nungki menjelaskan bahwa secara skema, kegiatan KKN dapat direkognisi hingga maksimal 20 SKS, namun penerapannya disesuaikan dengan kebijakan dan kurikulum masing-masing program studi. “Konversi ke SKS itu kurang lebih maksimal 20 SKS, tetapi nanti bergantung dengan program studi. Ada program studi misalnya Manajemen yang mengambil skema 10 SKS, dan beberapa program studi yang memiliki mata kuliah wajib tetap menjalankan perkuliahan pada satu atau dua mata kuliah”, jelasnya.

    Berangkat dari Persoalan Nyata

    Pengembangan KKN Berdampak UNIKOM dilakukan berdasarkan identifikasi persoalan yang ditemukan di lapangan. Dr. Agus Mulyana, S.Kom., M.T., selaku dosen FTIK UNIKOM yang terlibat dalam pengembangan KKN Berdampak UNIKOM, menjelaskan bahwa KKN Berdampak diposisikan sebagai sebuah proyek sosial yang dikerjakan secara serius dan terstruktur, bukan sekadar kegiatan administratif perguruan tinggi. “Jadi KKN Berdampak ini sesuatu proyek sosial yang bisa kita kerjakan dengan sungguh-sungguh”, ungkap Dr. Agus. Karena itu, pendekatan yang digunakan bukan sekadar membawa solusi dari kampus ke masyarakat, melainkan dimulai dari identifikasi kebutuhan masyarakat atau bottom-up approach.

    Dalam konteks pengelolaan sampah, persoalan dipetakan ke dalam tiga bagian, yaitu hulu, tengah, dan hilir. Pada tingkat hulu, persoalan utama yang ditemukan adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. “Problem besarnya adalah di hulu, pemilahan. Sehingga pendekatan yang kami lakukan adalah pendekatan persuasif edukatif,” terang Dr. Agus. Pendekatan tersebut juga dilakukan melalui edukasi, pemberian contoh, pendampingan, dan apresiasi kepada masyarakat yang mulai menerapkan pemilahan sampah.

    “Sampah Terdata, Lingkungan Tertata”

    Untuk memperkuat tata kelola, UNIKOM menyiapkan pendekatan berbasis teknologi melalui sistem pendataan sampah. Tempat sampah terpilah akan dilengkapi kode identifikasi berbasis QR yang dapat dihubungkan dengan aplikasi mobile. Sistem tersebut dirancang untuk menghubungkan tempat sampah dengan rumah atau pemiliknya sehingga aktivitas pengelolaan sampah dapat tercatat secara lebih sistematis.

    Dengan dukungan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI), sistem tersebut dirancang untuk membantu mengidentifikasi kondisi tempat sampah, termasuk volume serta karakteristik sampah organik dan non organik. Data yang terkumpul nantinya dapat membantu petugas menentukan prioritas pengangkutan sekaligus memberikan gambaran mengenai produksi sampah di setiap wilayah. Pada tingkat RT, RW, kecamatan, hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH), data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan dan kebijakan pengelolaan sampah.

    Konsep tersebut dirangkum dalam semangat “Sampah Terdata, Lingkungan Tertata.” Menurut Dr. Agus, pendekatan berbasis data penting agar kebijakan tidak hanya dibuat berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan kondisi faktual di lapangan. “Kalau perlu menambah orang, kita punya data. Kalau perlu menambah infrastruktur atau alat angkut, kita punya data operasional yang sudah kita miliki,” jelasnya.

    Dari Sampah Menjadi Ekonomi Sirkular

    KKN Berdampak UNIKOM juga membawa pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah. Sampah organik berpotensi diolah menjadi pakan maggot, sedangkan sampah non organik dapat disalurkan melalui bank sampah maupun dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai guna. Salah satu contoh yang dipersiapkan adalah pemanfaatan botol bekas menjadi pot tanaman dan bagian dari pengembangan hidroponik. Pemanfaatan tersebut dapat dikolaborasikan dengan program “Buruan Sae” di Kota Bandung.

    UNIKOM juga membuka peluang pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses budidaya, seperti sistem penyiraman dan pemupukan berbasis teknologi. “Target besarnya adalah menurunkan volume sampah per hari per wilayah, menaikkan tingkat kesadaran, lalu menghasilkan manfaat baru. Itu yang kita akan bangun, namanya circular economy”, tutur, Dr. Agus.

    Kecamatan Coblong Dorong Konsistensi hingga Zero Waste

    Camat Coblong, Ratna Rahayu Pitriyati, S.STP., M.Si., menyampaikan apresiasi atas inisiatif UNIKOM yang menjadikan Kecamatan Coblong sebagai salah satu lokus pelaksanaan KKN Berdampak. Menurutnya, persoalan sampah merupakan isu strategis di Kota Bandung yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Kehadiran UNIKOM dinilai dapat memperkuat upaya pemerintah kecamatan, kelurahan, dan masyarakat dalam mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif. “Luar biasa apresiasi sebesar-besarnya kepada UNIKOM yang telah menginisiasi kegiatan yang nantinya pasti akan memberikan kontribusi dan dampak yang luar biasa”, tuturnya.

    Ia menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi juga dapat menjadi contoh yang mendorong keterlibatan perguruan tinggi lainnya untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat. Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung pelaksanaan KKN Berdampak. “Mari kita dukung, mari berkolaborasi, mari bekerja sama dan mari sama-sama menciptakan lingkungan yang bersih, asri, bebas dari sampah”, tegasnya.

    Lebih jauh, Kecamatan Coblong berharap dampak KKN dapat terus berlanjut setelah mahasiswa menyelesaikan programnya. Konsistensi menjadi salah satu output utama yang diharapkan sehingga pemilahan dan pengelolaan sampah dapat berkembang menjadi budaya masyarakat. “Output yang paling kami inginkan adalah konsistensi. Diharapkan nanti terjadi perubahan dalam pengolahan sampah, bahkan menjadi kecamatan zero waste”, pungkasnya

    UNIKOM Bangun Role Model Pengelolaan Lingkungan

    Komitmen terhadap pengelolaan lingkungan tidak hanya diarahkan kepada masyarakat, tetapi juga dimulai dari internal UNIKOM. Dr. Agus Mulyana, S.Kom., M.T., menjelaskan bahwa UNIKOM tengah memperkuat tata kelola sampah di lingkungan kampus melalui penyediaan fasilitas pemilahan, edukasi, serta upaya membangun kesadaran dan kepatuhan sivitas akademika.

    Di lingkungan UNIKOM, pemilahan diarahkan ke dalam beberapa kategori, yaitu organik, non organik, residu, serta material yang dapat didaur ulang. “UNIKOM harus menjadi role model di internalnya sendiri”, ungkap Dr. Agus. Menurutnya, perubahan perilaku tidak dapat dibangun hanya melalui instruksi. Pendekatan persuasif dan edukatif diperlukan agar pemilahan sampah berkembang dari sekadar kesadaran menjadi kepatuhan dan akhirnya menjadi kebiasaan.

    Kolaborasi untuk Dampak yang Berkelanjutan

    KKN Berdampak 2026 di Kecamatan Coblong menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat memainkan peran strategis dalam menyelesaikan persoalan masyarakat sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Mahasiswa menjadi bagian dari proses perubahan, dosen berperan dalam pendampingan dan penguatan metodologi, pemerintah menyediakan dukungan kebijakan dan koordinasi wilayah, sementara masyarakat menjadi aktor utama dalam menjaga keberlanjutan program.

    Bagi mahasiswa, KKN menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, kepedulian sosial, pemecahan masalah, serta kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan dalam konteks kehidupan nyata. Sementara itu, bagi pemerintah, kolaborasi tersebut diharapkan menghadirkan tambahan sumber daya, gagasan, pendampingan, serta data yang dapat memperkuat pengambilan kebijakan. Sementara bagi masyarakat, program ini diharapkan memberikan pengetahuan, pendampingan, sistem pengelolaan, serta peluang pemanfaatan sampah menjadi sumber daya yang bernilai.

    Pada akhirnya, keberhasilan KKN Berdampak tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang diterjunkan atau banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. Dampak yang lebih penting adalah perubahan perilaku masyarakat, berkurangnya volume sampah, tersedianya data, tumbuhnya ekonomi sirkular, serta keberlanjutan sistem yang dibangun setelah program berakhir. Melalui semangat “Sampah Terdata, Lingkungan Tertata”, UNIKOM bersama Kecamatan Coblong berupaya membangun model pengelolaan lingkungan yang menghubungkan pendidikan, teknologi, pemerintah, dan masyarakat dalam satu ekosistem kolaboratif. Dari kampus ke masyarakat, dari sampah menjadi data, dari data menjadi kebijakan, dan dari kolaborasi menjadi dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan. (Direktorat Hms & Pro)

  • Tingkatkan Peluang Lolos Pendanaan Riset bersama Para Pakar di “Workshop Penulisan Proposal Hibah Dalam & Luar Negeri” yang Diselenggarakan oleh Pusat Kajian Bisnis Digital UNIKOM!

    Tingkatkan Peluang Lolos Pendanaan Riset bersama Para Pakar di “Workshop Penulisan Proposal Hibah Dalam & Luar Negeri” yang Diselenggarakan oleh Pusat Kajian Bisnis Digital UNIKOM!

    Dapatkan strategi konkret menembus skema hibah nasional hingga internasional bersama narasumber berpengalaman:

    • Dr. Muhammad Aria Rajasa Pohan, S.T., M.T. (Direktur Pusat Kajian & Hibah Internasional UNIKOM) – Navigasi Hibah Internasional: Strategi Membangun Konsorsium Global & Proposal Berdaya Saing
    • Assoc. Prof. Dr. Irawan Afrianto, S.T., M.T. (Direktur DP3M UNIKOM) – Kebijakan Riset Nasional & Penguatan Proposal: Menyelaraskan Potensi FEB dengan Prioritas Pendanaan Institusional
    • Dr. Adi Santoso, S.E., M.M. (COE EADT Telkom University) – Bedah Anatomi Proposal Menang Hibah: Trik Praktis State of the Art, Novelty, & Narasi Persuasif

    Catat jadwalnya!
    🗓️ Selasa, 8 September 2026
    ⏰08.30 WIB – Selesai
    📍Ruang VVIP Lantai 16, Gedung Baru UNIKOM

    Catatan: Peserta diharapkan membawa laptop dan Draft Concept Note / Ringkasan Ide Riset (1–2 halaman) untuk sesi Klinik Draft Proposal secara langsung.

    #UNIKOM #PusatKajianBisnisDigital #WorkshopPenulisanProposalHibah #HibahPenelitian #Riset

  • KPM UNIKOM Perkuat Kompetensi Keprotokolan melalui KPM Visit and Sharing 2026 ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat

    KPM UNIKOM Perkuat Kompetensi Keprotokolan melalui KPM Visit and Sharing 2026 ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat

    BANDUNG, UNIKOM – Dalam upaya meningkatkan kompetensi, wawasan, dan profesionalisme anggota di bidang keprotokolan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Korps Protokoler Mahasiswa (KPM) Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Kabinet Sarvajaya Periode 2025–2026 melaksanakan kegiatan KPM Visit and Sharing 2026 ke Kantor Pusat Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung pada Selasa, 14 Juli 2026. Mengusung tema “Protokoler PRIME: Presisi, Responsif, Integritas, Mandiri, Etis” dengan tagline “Learn With Precision, Lead With Integrity”, kegiatan tersebut menjadi wadah pembelajaran bagi anggota KPM UNIKOM untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai praktik keprotokolan, khususnya dalam lingkungan pemerintahan.

    Melalui pemaparan materi, diskusi interaktif, simulasi, serta observasi terhadap praktik kerja keprotokolan, peserta mendapatkan kesempatan untuk memahami secara langsung bagaimana standar dan etika keprotokolan diterapkan dalam mendukung berbagai agenda resmi pemerintahan. Turut hadir pada kesempatan tersebut, Ketua Divisi Keprotokolan UNIKOM, Agung Nugraha, S.I.Kom., serta H. Ribert Susanto, S.A.P., M.M., M.I.Kom., M.A.P., dari Bagian Protokol Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat yang berkesempatan menjadi narasumber sekaligus berbagi pengalaman selama menjalankan tugas di bidang keprotokolan.

    Kehadiran narasumber dari lingkungan pemerintahan memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh wawasan praktis mengenai standar kerja, etika, keterampilan komunikasi, hingga berbagai tantangan yang dihadapi seorang protokoler dalam melaksanakan tugasnya. Riza Marisa Hermawati, S.S., selaku perwakilan Bagian Protokol Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya KPM Visit and Sharing 2026. Menurutnya, kegiatan semacam ini penting sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengenal praktik keprotokolan secara lebih dekat. Ia menekankan bahwa keprotokolan tidak hanya berkaitan dengan tata acara dan etika, tetapi juga membutuhkan kemampuan beradaptasi, komunikasi yang efektif, ketelitian, serta tanggung jawab dalam setiap pelaksanaan tugas.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

    Lebih lanjut, Riza juga mendorong para peserta untuk terus belajar dan memanfaatkan setiap kesempatan sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Pengalaman yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat menjadi bekal bagi anggota KPM UNIKOM untuk meningkatkan kualitas diri, memperluas wawasan, serta membangun karakter protokoler yang profesional dan berintegritas.

    Memasuki sesi utama, kegiatan dilanjutkan dengan sharing session bersama H. Ribert Susanto, S.A.P., M.M., M.I.Kom., M.A.P., yang telah berkiprah selama 26 tahun di bidang keprotokolan. Sesi tersebut berlangsung secara interaktif. Selain menjelaskan konsep dan prinsip dasar keprotokolan di lingkungan pemerintahan, narasumber turut membagikan pengalaman selama menjalankan berbagai tugas protokoler serta mengajak peserta mengikuti sejumlah simulasi yang menggambarkan situasi nyata di lapangan.

    Peserta mendapatkan pemahaman mengenai penerapan tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan sesuai dengan ketentuan keprotokolan. Tidak hanya menerima materi secara teoritis, peserta juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung penempatan posisi protokoler, tata letak tamu kehormatan, serta penanganan berbagai kondisi yang dapat terjadi dalam pelaksanaan acara resmi. Metode pembelajaran tersebut membuat peserta dapat memahami materi secara lebih konkret sekaligus memperoleh pengalaman praktik yang relevan dengan tugas seorang protokoler.

    Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa seorang petugas protokol, termasuk protokoler di lingkungan perguruan tinggi, perlu memiliki dan menguasai empat aspek utama, yaitu keterampilan utama, etika protokol, sikap kerja protokol mahasiswa, serta perilaku di lapangan. Keempat aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk seorang protokoler yang mampu menjalankan tugas secara profesional, disiplin, dan adaptif terhadap berbagai kondisi yang muncul selama pelaksanaan kegiatan.

    Narasumber juga menjelaskan bahwa secara umum tugas petugas protokol mencakup pengaturan “makhluk hidup” dan “benda mati”. Dalam konteks pengaturan benda mati, peserta diperkenalkan dengan berbagai ketentuan mengenai lambang negara yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, termasuk penggunaan Lambang Negara Garuda Pancasila, Bendera Negara, foto Presiden, dan foto Wakil Presiden.

    Selain itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai tata penempatan bendera negara dan bendera organisasi serta penerapan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dalam rangkaian acara resmi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sementara dalam pengaturan “makhluk hidup”, narasumber memaparkan klasifikasi tamu berdasarkan tingkat kedudukan dan prioritas keprotokolan, mulai dari pejabat negara, unsur pemerintahan, hingga tokoh masyarakat. Pemahaman tersebut menjadi dasar dalam menentukan tata tempat, tata penghormatan, dan tata penyambutan agar pelaksanaan suatu kegiatan berjalan tertib dan sesuai ketentuan.

    Selain aspek teoritis, peserta juga dibekali berbagai keterampilan dasar yang perlu dimiliki seorang petugas protokol. Materi mencakup penguasaan susunan acara, pemahaman terhadap alur kegiatan dan denah lokasi, penentuan tata tempat bagi tamu kehormatan, serta kemampuan berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan. Peserta juga mengikuti simulasi penempatan tamu berdasarkan prioritas jabatan serta latihan menghadapi berbagai kondisi yang berpotensi terjadi selama pelaksanaan acara.

    Antusiasme peserta semakin terlihat ketika sesi dilanjutkan dengan tanya jawab, simulasi, dan kuis interaktif. Peserta diberikan kesempatan untuk menguji pemahaman sekaligus menyampaikan berbagai pertanyaan berdasarkan pengalaman dan situasi yang mungkin mereka hadapi sebagai protokoler mahasiswa.

    Sebagai bentuk apresiasi, narasumber turut memberikan hadiah kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan serta menunjukkan pemahaman terbaik selama sesi berlangsung. Interaksi tersebut menciptakan suasana pembelajaran yang komunikatif, dinamis, dan menyenangkan.

    Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan evaluasi interaktif menggunakan platform Quizizz. Evaluasi ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi keprotokolan yang telah disampaikan selama kegiatan. Kuis berlangsung dengan penuh antusiasme. Para peserta berkompetisi untuk memperoleh hasil terbaik sekaligus menguji kembali pemahaman mereka terhadap berbagai materi yang telah diberikan.

    Sebagai bentuk penghargaan atas pencapaian dan keaktifan peserta, KPM UNIKOM memberikan apresiasi khusus kepada peserta yang berhasil meraih nilai terbaik dalam evaluasi tersebut. Seluruh rangkaian KPM Visit and Sharing 2026 kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi dan foto bersama anggota KPM UNIKOM dengan jajaran Bagian Protokol Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat. Kegiatan Visit and Sharing 2026 menjadi salah satu wujud nyata komitmen KPM UNIKOM dalam membangun sumber daya manusia protokoler mahasiswa yang presisi, responsif, berintegritas, mandiri, dan etis. Melalui kegiatan pembelajaran langsung bersama praktisi, anggota KPM UNIKOM tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai teori dan tata aturan keprotokolan, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktis yang dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan organisasi maupun agenda resmi di lingkungan perguruan tinggi. Dengan semangat “Learn With Precision, Lead With Integrity”, KPM UNIKOM diharapkan terus berkembang sebagai wadah pembinaan mahasiswa yang mampu melahirkan generasi protokoler yang profesional, adaptif, dan memiliki standar kerja yang tinggi. (Direktorat Hms & Pro)

  • UAS Berbasis Proyek: Mahasiswa Prodi Teknik Komputer FTIK UNIKOM Bangun Mini Start-Up lewat Capstone Project, Ciptakan 9 Inovasi Teknologi

    UAS Berbasis Proyek: Mahasiswa Prodi Teknik Komputer FTIK UNIKOM Bangun Mini Start-Up lewat Capstone Project, Ciptakan 9 Inovasi Teknologi

    BANDUNG, UNIKOM — Inovasi pembelajaran terus dikembangkan Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) untuk memastikan mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan pengetahuan dalam menjawab berbagai persoalan nyata di masyarakat dan dunia industri. Salah satu inovasi tersebut diinisiasi oleh Dr. Agus Mulyana, S.Kom., M.T., dosen Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) UNIKOM, lulusan Program Doktor Ilmu Komputer IPB University sekaligus Lulusan Terbaik Program Doktor dengan IPK 3,97 pada Wisuda Tahap III Tahun Akademik 2025/2026 di IPB University. Berbekal kompetensi akademik dan pengalamannya di bidang teknologi, Dr. Agus menginisiasi penerapan Capstone Project sebagai model evaluasi akhir semester sekaligus alternatif pengganti Ujian Akhir Semester (UAS) tertulis bagi mahasiswa Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) UNIKOM.

    Puncak pelaksanaan Final UAS Capstone Project dilaksanakan pada Senin, 3 Agustus 2026, bertempat di Ruang Kelas 4507, Kampus I UNIKOM. Kegiatan tersebut menjadi tahap akhir dari rangkaian pembelajaran berbasis proyek yang telah dijalani mahasiswa selama satu semester genap 2025-2026. Dalam pelaksanaan final tersebut, setiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan proyek yang telah dikembangkan di hadapan tim penilai. Presentasi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menjelaskan permasalahan yang diangkat, kebutuhan pengguna, inovasi yang ditawarkan, arsitektur teknologi, fungsi prototipe, hingga potensi pengembangan solusi ke depannya.

    Setelah seluruh kelompok menyampaikan presentasi, kegiatan dilanjutkan dengan proses penjurian berdasarkan rubrik penilaian Capstone Project yang telah ditetapkan. Penilaian dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan aspek permasalahan dan kebutuhan pengguna, validasi pengguna, inovasi, kesesuaian solusi dengan permasalahan, arsitektur teknis, fungsionalitas prototipe, UI/UX, keamanan, model bisnis, potensi pasar, kemampuan presentasi, serta kemampuan tim dalam menjawab pertanyaan dan mengeksekusi proyek.

    Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pengumuman hasil dan pemenang Capstone Project berdasarkan akumulasi nilai dari seluruh komponen penilaian. Mekanisme tersebut memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk tidak hanya menghasilkan sebuah proyek, tetapi juga mempertanggungjawabkan gagasan dan produk yang dikembangkan secara profesional di hadapan juri.

    Capstone Project diterapkan pada sejumlah mata kuliah yang diampu Dr. Agus Mulyana,  S.Kom., M.T., yakni Teknologi Internet of Things (IoT), Pemrograman Mobile Android, dan Interaksi Manusia dan Komputer (IMK). Model pembelajaran tersebut dirancang untuk mengakumulasi berbagai materi yang telah dipelajari mahasiswa ke dalam sebuah proyek yang berangkat dari persoalan nyata di lingkungan masyarakat maupun industri.

    Menurut Dr. Agus, perubahan dunia teknologi dan industri yang bergerak semakin cepat menuntut perguruan tinggi untuk mengembangkan pola pembelajaran yang lebih adaptif. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali teori dan praktikum, tetapi juga perlu mendapatkan pengalaman dalam mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, bekerja dalam tim, serta memahami orientasi karier dan profesi setelah menyelesaikan pendidikan. “Capstone itu adalah mekanisme akumulasi materi pengajaran dengan pendekatan mini-projek yang berbasis kondisi sosial aktual dari lingkungan atau masyarakat ataupun industri”, jelas Dr. Agus.

    Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak sekadar menyelesaikan tugas untuk memperoleh nilai, tetapi ditantang untuk menemukan dan memahami persoalan yang benar-benar terjadi di sekitar mereka. Persoalan tersebut kemudian dirumuskan menjadi sebuah proyek yang menghasilkan solusi berbasis keilmuan yang telah dipelajari.

    Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menggunakan dua pendekatan utama, yaitu design thinking dan computational thinking. Kedua pendekatan tersebut digunakan untuk membantu mahasiswa memahami permasalahan secara sistematis, merumuskan kebutuhan pengguna, serta mengembangkan solusi yang relevan dan dapat diterapkan.

    Menariknya, kelompok mahasiswa dalam Capstone Project tidak dibentuk seperti kelompok tugas pada umumnya. Mereka diarahkan untuk membangun sebuah mini startup, sehingga setiap anggota memiliki peran dan tanggung jawab yang menyerupai struktur organisasi perusahaan. Mahasiswa dapat memposisikan diri sebagai CEO, CTO, CFO, maupun peran lainnya sesuai dengan kebutuhan tim dan proyek yang dikembangkan.

    Pendekatan tersebut sekaligus membangun tiga fondasi penting dalam proses pembelajaran mahasiswa, yakni mindset, skillset, dan toolset. Mindset diarahkan untuk membangun pola pikir mahasiswa sebagai calon profesional maupun entrepreneur. Skillset dikembangkan melalui kemampuan lintas bidang, termasuk pemahaman terhadap aspek sosial, ekonomi, teknologi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam menyelesaikan persoalan. Sementara toolset menekankan penguasaan berbagai perangkat dan teknologi terkini yang relevan dengan kebutuhan industri.

    Pada pelaksanaan semester ini, terdapat sembilan tim yang mengembangkan solusi teknologi dengan fokus permasalahan yang beragam. Tim AlteraSight mengembangkan solusi IoT monitoring for safety and environment, sementara AQUALYZE berfokus pada smart aquaculture water monitoring. Tim EduAir mengangkat solusi healthy learning-space air monitoring, sedangkan hirup.id mengembangkan connected safety for better living.

    Selanjutnya, LadangKu Smart Farming menghadirkan solusi precision farming for a better future. Tim NADIMAX berfokus pada smart health monitoring performance, sementara Pantau Banjir Group mengembangkan sistem early flood detection and faster response. Adapun VeloCity Bandung mengangkat tema smart mobility for efficient activity, dan VitaCheck mengembangkan solusi digital health check for the future.

    Keragaman tema tersebut menunjukkan bahwa Capstone Project memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan kompetensi teknologi pada berbagai persoalan aktual, mulai dari pertanian, kesehatan, lingkungan, pendidikan, keselamatan, mitigasi bencana, hingga mobilitas perkotaan. Selain, itu, sistem penilaian Capstone Project disusun secara terukur dengan total bobot 100 persen. Aspek yang dinilai mencakup Problem, SDGs & User Need sebesar 8 persen, User Validation & Evidence sebesar 8 persen, Innovation & Differentiation sebesar 10 persen, serta Solution–Problem Fit sebesar 8 persen. Penilaian juga mencakup Technical Architecture sebesar 10 persen dan Prototype Functionality & Demo dengan bobot 12 persen.

    Selain kemampuan teknis dan inovasi, mahasiswa dinilai dari aspek UI/UX & Accessibility sebesar 7 persen, Security, Reliability & Ethics sebesar 7 persen, Business Model & Sustainability sebesar 8 persen, serta Market Potential & Scalability sebesar 7 persen. Kemampuan menyampaikan gagasan melalui Pitch Delivery & Storytelling memperoleh bobot 7 persen, sedangkan Q&A, Team Capability & Execution memiliki bobot 8 persen. Rangkaian kriteria tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut mampu membuat produk yang berfungsi, tetapi juga harus mampu memahami kebutuhan pengguna, melakukan validasi, menunjukkan kebaruan solusi, mempertimbangkan keamanan dan etika, merancang keberlanjutan bisnis, melihat potensi pasar, serta mempertanggungjawabkan gagasannya di hadapan juri.

    Dari hasil penilaian, LadangKu Smart Farming berhasil menempati peringkat pertama dengan nilai 86,40, disusul VeloCity Bandung pada peringkat kedua dengan nilai 85,00, dan NADIMAX pada peringkat ketiga dengan nilai 84,80. Ketiga tim tersebut menunjukkan performa terbaik berdasarkan keseluruhan kriteria penilaian yang telah ditetapkan dalam Capstone Project.

    Menurut Dr. Agus, hasil penilaian tersebut tidak semata-mata menggambarkan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan sebuah produk, tetapi juga menjadi bagian dari proses untuk mengukur perkembangan kompetensi mahasiswa secara lebih utuh. Pembelajaran diarahkan agar mahasiswa mengalami proses perkembangan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi paham, hingga mampu menjadi terampil. “Studi itu yang diukur deltanya. Dari tidak tahu menjadi tahu, tahu menjadi paham, paham menjadi terampil”, ungkap Dr. Agus.

    Model evaluasi tersebut sekaligus menempatkan kemampuan kolaborasi sebagai bagian penting dari capaian pembelajaran. Mahasiswa dilatih membangun komunikasi, koordinasi, kepemimpinan, kemampuan manajerial, administrasi, serta interaksi sosial dalam sebuah tim. Kompetensi tersebut dinilai penting karena dunia kerja menuntut kemampuan bekerja secara kolaboratif dan tidak hanya mengandalkan kemampuan individu. Lebih jauh, Capstone Project diharapkan dapat menjadi bagian dari pembentukan portofolio mahasiswa. Setiap proyek yang dikembangkan tidak dipandang sekadar sebagai tugas perkuliahan, tetapi dapat menjadi rekam jejak kompetensi yang menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi masalah, merancang solusi, membangun produk, bekerja dalam tim, dan mempresentasikan gagasan secara profesional.

    Dr. Agus juga menekankan bahwa tujuan pembelajaran tidak semata-mata mengukur kemampuan mahasiswa dalam menjawab soal secara tertulis. Perkembangan mahasiswa perlu dilihat secara lebih holistik melalui aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Karena itu, Capstone Project hadir sebagai alternatif evaluasi yang memberikan ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk menunjukkan potensi dan kompetensinya. Ke depan, Dr. Agus berharap model pembelajaran tersebut dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak praktisi industri, instansi terkait, serta pihak yang berpotensi mendukung pengembangan proyek mahasiswa. Keterlibatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada proses evaluasi, tetapi dapat membuka peluang bagi proyek-proyek terbaik untuk memperoleh pendampingan, inkubasi, bahkan pendanaan sehingga berpotensi berkembang menjadi startup yang sesungguhnya.

    Pelaksanaan Final UAS Capstone Project di Ruang Kelas 4507 Kampus I UNIKOM menjadi penanda bahwa proses pembelajaran dapat dikembangkan menjadi pengalaman yang lebih kontekstual, kompetitif, dan berorientasi pada penyelesaian masalah. Melalui presentasi, penjurian, hingga pengumuman pemenang, mahasiswa memperoleh pengalaman yang menyerupai proses profesional dalam mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan sebuah inovasi. Melalui Capstone Project, UAS tidak lagi sekadar menjadi tahap akhir untuk mengukur kemampuan menjawab soal, tetapi menjadi ruang pembuktian kompetensi, kreativitas, kolaborasi, dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia nyata. Dari sembilan tim dengan beragam gagasan dan solusi, diharapkan lahir inovasi yang tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia industri. (Direktorat Hms & Pro)

  • Desain Sistem Informasi Perusahaan Menggunakan Kerangka TOGAF untuk Instansi Pelayanan Publik

    Desain Sistem Informasi Perusahaan Menggunakan Kerangka TOGAF untuk Instansi Pelayanan Publik

    Penulis: Herry Saputra, Iyan Gustiana, Eddy Soeryanto Soegoto

    Abstrak

    Sebagai salah satu instansi pemerintah yang bertugas melayani administrasi kependudukan, kecamatan Tagaraja saat ini belum mampu mendukung strategi organisasi secara optimal. Hal ini disebabkan kurangnya sistem informasi yang mendukung setiap proses pertukaran data dari setiap bidang manajemen. Peran teknologi informasi sebagai alat pendukung dalam organisasi sebagai bagian dari sistem informasi telah menjadi bagian dari strategi organisasi untuk mencapai tujuannya. Namun, masalah saat ini adalah implementasi sistem informasi untuk kepentingan seluruh organisasi masih sulit. Strategi bisnis dan strategi teknologi harus selaras. Faktor integrasi dalam pengembangan sistem informasi dapat digunakan untuk menentukan keselarasan sistem informasi dengan kebutuhan organisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menciptakan arsitektur sistem informasi perusahaan yang tepat untuk mencapai tujuan strategis organisasi sesuai dengan kecamatan dan misi Tagaraja. Diperlukan metode yang komprehensif dan mudah digunakan untuk mendesain arsitektur perusahaan. Penelitian TOGAF ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode pengumpulan data seperti tinjauan pustaka, wawancara, dan observasi langsung, serta metode desain arsitektur ADM Open Group Framework (TOGAF). Temuan penelitian disajikan dalam bentuk proposal aplikasi terintegrasi yang dapat mendukung proses bisnis sekaligus mengatasi masalah terkait kurangnya sistem informasi di kantor kecamatan Tagaraja. © 2022 Taylor’s University. Semua hak dilindungi undang-undang.

    Kata kunci penulis

    Administrasi; Cetak Biru; Arsitektur Perusahaan; Sistem Informasi; TOGAF

    Artikel ini dapat diakses di https://www.scopus.com/pages/publications/85135697959

  • Raih Medali Perunggu di Ajang Nasional, Dua Atlet UKM Pencak Silat UNIKOM Unjuk Kekuatan di Yogyakarta Championship 7 2026

    Raih Medali Perunggu di Ajang Nasional, Dua Atlet UKM Pencak Silat UNIKOM Unjuk Kekuatan di Yogyakarta Championship 7 2026

    BANDUNG, UNIKOM — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencak Silat. Dua atlet UNIKOM berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Nasional Yogyakarta Championship 7 2026 yang berlangsung pada Selasa hingga Kamis, 30 Juni–2 Juli 2026, bertempat di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Kejuaraan tersebut menjadi salah satu ajang pencak silat tingkat nasional yang mempertemukan atlet-atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta berasal dari berbagai perguruan silat, sekolah, hingga atlet independen yang berkompetisi untuk menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus meraih prestasi di tingkat nasional.

    Dalam ajang tersebut, Naila Hasna Huwaida mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, tampil pada kategori Seni Tunggal Tangan Kosong Putri. Sementara itu, Muhammad Zhafran Tahsin Talaohu mahasiswa Program Studi Teknik Arsitektur, berhasil meraih medali Perunggu pada kategori Seni Tunggal Tangan Kosong Putra. Capaian tersebut juga menjadi hasil dari proses persiapan yang dilakukan secara intensif oleh para atlet. Selama kurang lebih satu setengah bulan, seluruh anggota tim menjalani program latihan yang mencakup latihan teknik dan fisik. Pada latihan teknik, para atlet mengasah berbagai gerakan pencak silat, seperti bantingan, guntingan, dan tendangan yang disesuaikan dengan ketentuan terbaru IPSI tahun 2025.

    Sementara itu, latihan fisik difokuskan pada peningkatan kekuatan otot, kelincahan, dan daya tahan tubuh. Salah satu metode yang diterapkan adalah beep test untuk mengukur kemampuan atlet dalam mempertahankan intensitas lari hingga mencapai level tertentu. Persiapan tersebut dilakukan agar para atlet mampu menghadapi tekanan serta intensitas pertandingan dengan kondisi fisik dan mental yang optimal.

    Menurut Pembina UKM Pencak Silat UNIKOM, Dr. Ony Widilestariningtyas, S.E., M.Si., Ak., CA., pencapaian tersebut diharapkan tidak hanya menjadi keberhasilan sesaat, tetapi juga menjadi pemicu semangat bagi seluruh anggota untuk terus meningkatkan kemampuan dan meraih prestasi yang lebih tinggi pada kompetisi berikutnya. Prestasi para atlet juga diharapkan semakin mengharumkan nama UKM Pencak Silat dan UNIKOM di berbagai ajang pencak silat tingkat nasional maupun internasional.

    Sementara itu, Ketua UKM Pencak Silat UNIKOM, Najwa, turut menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian yang berhasil diraih oleh rekan-rekan atlet, termasuk atas hasil yang diperolehnya secara individu. Menurutnya, hasil tersebut merupakan buah dari perjuangan, dedikasi, dan proses panjang yang telah dijalani bersama. “Seluruh perjuangan, dedikasi, dan proses panjang yang kami lalui selama ini akhirnya membuahkan hasil yang sangat memuaskan”, tutur Najwa.

    Meski berhasil meraih prestasi, Najwa menilai masih terdapat sejumlah hal yang perlu dievaluasi dan ditingkatkan. Perbaikan akan dilakukan, khususnya dalam aspek kondisi fisik dan penguasaan teknik, sebagai bagian dari persiapan menghadapi kompetisi berikutnya. “Kami menyadari masih terdapat sejumlah aspek yang perlu dievaluasi dan diperbaiki guna meningkatkan performa pada kompetisi selanjutnya. Ke depan, kami berharap dapat kembali berkompetisi di level yang lebih tinggi dan mengukir prestasi yang lebih gemilang lagi untuk mengharumkan nama UNIKOM”,  ungkapnya.

    Yogyakarta Championship 7 2026 sendiri berlangsung dengan penuh semangat sportivitas dan memperlombakan berbagai kategori usia, mulai dari Usia Dini, Pra-Remaja, Remaja, hingga Dewasa/Mahasiswa. Kategori pertandingan meliputi Seni TGR, Solo Kreatif, dan Tanding Prestasi, baik kelas Under maupun Open.

    Selain memperebutkan medali emas, perak, dan perunggu, kejuaraan ini juga memberikan penghargaan Juara Umum I, II, dan III untuk masing-masing kategori usia. Para pemenang mendapatkan trofi, sertifikat, dan uang pembinaan. Sementara itu, penghargaan Pesilat Terbaik Tanding Putra dan Putri diberikan kepada atlet dengan performa terbaik pada setiap kategori usia.

    Prestasi yang diraih Naila Hasna Huwaida dan Muhammad Zhafran Tahsin Talaohu menjadi bukti bahwa kerja keras, kedisiplinan, dan latihan yang terarah mampu membawa mahasiswa UNIKOM bersaing di tingkat nasional. Capaian tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi keluarga besar UKM Pencak Silat UNIKOM untuk terus mengembangkan potensi atlet, meningkatkan prestasi, dan membawa nama baik almamater pada kompetisi-kompetisi mendatang. (Direktorat Hms & Pro)

  • RAKERNAS APTISI 2026: Rektor UNIKOM Sekaligus Ketua APTISI Jabar Resmi Menjadi Mentor Sekolah Kepemimpinan Nasional APTISI

    RAKERNAS APTISI 2026: Rektor UNIKOM Sekaligus Ketua APTISI Jabar Resmi Menjadi Mentor Sekolah Kepemimpinan Nasional APTISI

    BANDUNG, UNIKOM — Minggu, 23 Agustus 2026, Ketua APTISI Jawa Barat dan juga Wakil Ketua Bidang Teknologi dan Inovasi APTISI Pusat sekaligus Rektor Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Prof. 3 Prof. HC. Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, M.T., menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Tahun 2026. Bertempat di Ballroom Hotel Grand Mercure Lampung, kehadiran tersebut menjadi bagian dari komitmen UNIKOM untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi antar pemangku kepentingan pendidikan tinggi sekaligus mendorong kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan nasional.

    Rakernas I APTISI 2026 diikuti sekitar 500 peserta dari 34 provinsi di Indonesia. Forum nasional tersebut menjadi ruang strategis bagi pimpinan perguruan tinggi swasta untuk bertukar gagasan, menyampaikan aspirasi, serta membahas berbagai isu penting terkait penguatan pendidikan tinggi, perluasan akses pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, tata kelola perguruan tinggi, hingga peningkatan kontribusi kampus bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

    Salah satu momen penting dalam rangkaian kegiatan Rakernas I APTISI 2026 adalah penyematan Pin Mentor Sekolah Kepemimpinan Nasional APTISI kepada Ketua APTISI Jawa Barat sekaligus Rektor UNIKOM, Prof. 3 Prof. HC. Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, MT, oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, Ph.D. Penyematan pin tersebut menjadi simbol kepercayaan sekaligus penanda peran Prof. Eddy sebagai salah satu mentor dalam Sekolah Kepemimpinan Nasional APTISI.

    Kepercayaan serupa juga diberikan kepada sejumlah pimpinan perguruan tinggi swasta (PTS) dari berbagai daerah di Indonesia yang dipercaya berperan sebagai mentor dalam program tersebut. Berdasarkan daftar peserta, para mentor berasal dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki kiprah dan rekam jejak dalam pengembangan pendidikan tinggi, termasuk pimpinan PTS, seperti Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Esa Unggul, Universitas Mercu Buana, Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Borobudur, Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.

    Kepercayaan tersebut menjadi momentum penting bagi UNIKOM dalam turut berkontribusi terhadap penguatan kapasitas kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi swasta. Melalui peran sebagai mentor, pengalaman, wawasan, serta praktik yang baik dalam pengelolaan perguruan tinggi, diharapkan dapat turut dibagikan dan menjadi bagian dari proses pengembangan calon-calon pemimpin pendidikan tinggi yang adaptif, visioner, dan mampu menjawab tantangan zaman.

    Dalam forum Rakernas, Mendiktisaintek Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi swasta dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia. Menurutnya, berbagai masukan dari pimpinan PTS menjadi bahan penting bagi pemerintah untuk dikaji dan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku. “Kita akan proses. Mohon kalau ada masukan juga disampaikan secara tertulis supaya nanti bisa dikaji untuk ditindaklanjuti”. Lebih lanjut ia menyatakan, salah satu isu yang menjadi perhatian dalam dialog adalah perluasan akses pendidikan tinggi. Pemerintah terus melakukan penajaman pelaksanaan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Dalam konteks tersebut, pemerintah daerah juga dapat memberikan dukungan beasiswa kepada mahasiswa perguruan tinggi swasta. “Pemda boleh memberikan bantuan kepada PTS, beasiswa, Itu sudah boleh”, demikian tuturnya.

    Selain akses pendidikan, penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pembahasan Rakernas. Mendiktisaintek juga menyampaikan peluang pemanfaatan pengalaman dan kompetensi akademik untuk mendukung penguatan PTS melalui transfer pengetahuan. “Supaya ada transfer knowledge, mereka orang-orang yang baik, yang bagus, kinerjanya dapat dioptimalkan untuk mendukung penguatan PTS”, pungkas Prof. Brian.

    Sementara itu, Ketua Umum APTISI, Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si., MEI., menekankan bahwa perguruan tinggi perlu melampaui fungsi pendidikan semata dan mampu menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat. “Indonesia Emas tidak akan lahir dari kampus yang hanya berhasil mengajar, ia lahir dari kampus yang mampu mengubah pengetahuan menjadi keberdayaan”, tutur Dr. Budi.

    Semangat tersebut sejalan dengan arah Diktisaintek Berdampak, yang mendorong perguruan tinggi untuk menghadirkan manfaat nyata melalui pendidikan, penelitian, inovasi, pengembangan talenta, serta kontribusi langsung terhadap penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.

    Rakernas I APTISI 2026 juga menjadi momentum penguatan organisasi APTISI di tingkat daerah. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Lampung dipercaya menjadi Dewan Pembina APTISI Provinsi Lampung, sementara Dr. Ir. H. Firmansyah Alfian, M.BA., M.Sc. dilantik sebagai Ketua APTISI Provinsi Lampung periode 2026–2031. Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPR RI Rycko Menoza, M.B.A., Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani, S.Sos., M.Sc., Kasdam XXI Raden Inten Brigjen TNI Andrian Susanto, S.I.P., M.Han., M.I.Pol., serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

    Bagi UNIKOM, kehadiran Rektor dalam Rakernas I APTISI 2026 sekaligus kepercayaan sebagai Mentor Sekolah Kepemimpinan Nasional APTISI menjadi momentum strategis untuk memperluas kontribusi UNIKOM dalam pengembangan kepemimpinan perguruan tinggi swasta di Indonesia. Penyematan Pin Mentor oleh Mendiktisaintek, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., menjadi simbol sinergi sekaligus kepercayaan terhadap peran UNIKOM dalam membangun kepemimpinan pendidikan tinggi yang berintegritas, adaptif, inovatif, dan berorientasi pada dampak.

    Melalui momentum tersebut, UNIKOM terus meneguhkan komitmennya untuk tidak hanya menjadi institusi pendidikan yang unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi Indonesia yang kolaboratif, berdaya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta pembangunan nasional. (Direktorat Hms & Pro)

  • UNIKOM Gelar Workshop Kurikulum “Reimagining Curriculum for Artificial Intelligence Era” Perkuat Kurikulum Berbasis OBE Untuk Lahirkan Digital Leaders Berkelas Dunia

    UNIKOM Gelar Workshop Kurikulum “Reimagining Curriculum for Artificial Intelligence Era” Perkuat Kurikulum Berbasis OBE Untuk Lahirkan Digital Leaders Berkelas Dunia

    BANDUNG, UNIKOM — Dalam rangka Dies Natalis ke-26, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui workshop bertajuk “26 Years of UNIKOM: Reimagining Curriculum for Artificial Intelligence Era Melahirkan Digital Leaders Berkelas Dunia melalui Kurikulum Masa Depan” yang digelar pada Rabu, 12 Agustus 2026. Bertempat di Auditorium Lantai 17 UNIKOM.

    Workshop yang digagas oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan bersama Tim Ad Hoc Kurikulum UNIKOM tersebut, secara khusus diarahkan untuk memperkuat pemahaman sivitas akademika mengenai filosofi, urgensi, implementasi, dan evaluasi Outcome-Based Education (OBE) sebagai salah satu fondasi penting dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi. Kehadiran seluruh unsur pimpinan, pengelola program studi, dan dosen dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa transformasi kurikulum merupakan tanggung jawab bersama dan menjadi bagian penting dari arah pengembangan akademik UNIKOM dalam menghadapi era kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., S.E., M.Si., Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya, Assoc. Prof. Dr. Agus Riyanto, S.T., M.T., CSBA, Wakil Rektor III Bidang Riset, Inovasi, dan Akreditasi Assoc. Prof. Dr. Ir. Herman S. Soegoto, MBA, Wakil Rektor IV Bidang Teknologi Digital & ICT, International Program & Center of Excellence Prof. Zainal A. Hasibuan, Ph.D., serta Deputi Wakil Rektor IV Adam Mukharil Bachtiar, S.Kom., M.T., Ph.D., bersama para dekan, ketua program studi, dan seluruh dosen di lingkungan UNIKOM.

    Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNIKOM, Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., S.E., M.Si., menegaskan bahwa workshop tersebut merupakan bagian dari langkah strategis UNIKOM untuk membangun kesamaan pemahaman dan mindset seluruh sivitas akademika mengenai penerapan kurikulum berbasis OBE. Menurutnya, kurikulum memiliki posisi yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan pendidikan karena menjadi dasar dalam menentukan bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan dan bagaimana kompetensi mahasiswa dibentuk. “Kurikulum adalah jantungnya pendidikan. Dari kurikulum inilah kita menyampaikan kepada masyarakat apa yang menjadi kekuatan dan keunggulan kita. Karena itu, bagaimana kurikulum tersebut disusun dan disajikan menjadi tanggung jawab bersama para pimpinan, dosen, dan seluruh sivitas akademika”, tutur Prof. Umi.

    Ia menjelaskan bahwa pengembangan dan penyempurnaan kurikulum selama ini dilakukan melalui proses di tingkat program studi, kemudian dibawa ke tingkat fakultas untuk mendapatkan masukan dan persetujuan. Berbagai masukan dari pemangku kepentingan juga menjadi bagian penting agar kurikulum yang dihasilkan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan, serta kemajuan teknologi.

    Selain itu, Prof. Umi juga menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang saat ini menjadi bagian dari perubahan besar dalam dunia pendidikan. Menurutnya, kehadiran AI merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari sehingga sivitas akademika, khususnya dosen, perlu memiliki kesiapan untuk beradaptasi dan memanfaatkannya secara tepat dalam proses pendidikan. “Ini adalah era digital. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menghadapinya. Yang penting bukan sekadar menggunakan AI, tetapi bagaimana dosen dapat mengantisipasi dan mengarahkan penggunaannya sehingga daya pikir dan kreativitas mahasiswa tetap berkembang”, jelasnya.

    Menurut Prof. Umi, pemanfaatan AI tidak seharusnya menghilangkan peran dosen maupun kemampuan berpikir mahasiswa. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran yang dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, adaptif, kolaboratif, serta bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

    Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen UNIKOM dalam mendukung terwujudnya Campus AI Ready, yaitu lingkungan kampus yang memiliki kesiapan sumber daya manusia, proses pembelajaran, kurikulum, serta ekosistem akademik dalam menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial. Kesiapan tersebut tidak hanya diarahkan pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan sivitas akademika untuk memanfaatkan AI secara bijak, produktif, etis, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan.

    Dengan demikian, transformasi kurikulum yang dilakukan UNIKOM memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar pembaruan dokumen akademik. Kurikulum diarahkan menjadi instrumen untuk membangun ekosistem pendidikan yang mampu menghubungkan kompetensi akademik, penguasaan teknologi, inovasi, kewirausahaan, dan kebutuhan dunia profesional.

    Lebih lanjut, Prof. Umi menyampaikan bahwa setelah mendapatkan pemahaman mengenai konsep OBE, para dosen dan pengelola program studi akan melanjutkan proses pengembangan terhadap kurikulum yang telah dipersiapkan. Kurikulum tersebut selanjutnya akan dievaluasi dan dikembangkan dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak, termasuk pihak eksternal, sehingga kurikulum yang dihasilkan benar-benar memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia profesional dan perkembangan teknologi. “Setelah konsep ini diberikan, para dosen akan masuk ke sesi pengembangan untuk mengolah kurikulum yang sudah dipersiapkan. Pada tahap berikutnya, kita akan mengundang pihak eksternal untuk memberikan masukan terhadap kurikulum yang telah disusun”, tambahnya.

    Prof. Umi berharap proses tersebut dapat menghasilkan kurikulum yang mampu menjawab tantangan era digital sekaligus mendukung visi UNIKOM dalam mencetak lulusan yang memiliki daya saing global. Ia menegaskan bahwa ke depan seluruh kurikulum di lingkungan UNIKOM diarahkan untuk mengimplementasikan prinsip OBE. “Tidak boleh ada kurikulum di UNIKOM ke depan yang tidak mengimplementasikan prinsip OBE. Kita ingin melalui kurikulum ini lahir digital leaders berkelas dunia”, demikian pungkasnya.

    Memasuki agenda utama, sesi talkshow diisi oleh narasumber Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., SE., M.Si., dan Wakil Rektor IV Bidang Teknologi Digital & ICT, International Program & Center of Excellence Prof. Zainal A. Hasibuan, Ph.D., dengan dipandu oleh Deputi Wakil Rektor IV UNIKOM, Adam Mukharil Bachtiar, S.Kom., M.T., Ph.D selaku moderator. Dalam pengantarnya, Adam Ph.D., menjelaskan bahwa pembahasan mengenai kurikulum pada workshop tersebut memiliki keterkaitan erat dengan agenda transformasi AI yang tengah dikembangkan UNIKOM. “Tema kita hari ini masih berkaitan dengan AI. Kalau sebelumnya kita membahas AI secara umum, sekarang kita masuk ke bagaimana AI ditempatkan dalam kurikulum,” ungkap Adam.

    Adam menjelaskan bahwa rangkaian workshop dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep OBE secara teoritis, tetapi juga mampu melihat bagaimana prinsip tersebut diterapkan secara nyata dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Sesi awal difokuskan pada pemahaman filosofis mengenai OBE, termasuk perubahan pola pikir yang diperlukan untuk mengimplementasikannya secara konsisten.

    Menurut Adam Ph.D., OBE tidak dapat dipandang sebatas pemenuhan administrasi akademik. OBE membutuhkan perubahan cara pandang dalam merancang pendidikan, mulai dari menentukan capaian pembelajaran, menyusun proses pembelajaran, memilih metode asesmen, hingga melakukan evaluasi terhadap ketercapaian kompetensi mahasiswa. “OBE itu bukan hanya administrasi. Ada dokumen, ada evaluasi, tetapi yang paling penting adalah mindset. Kalau mindset kita masih menggunakan pola kurikulum lama, maka kita akan kesulitan untuk benar-benar menerapkan OBE”, jelasnya.

    Ia juga menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dibagi ke dalam beberapa sesi dengan fokus yang saling melengkapi. Pada sesi pagi, peserta mendapatkan pemaparan mengenai filosofi dan konsep OBE, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai evaluasi implementasinya. Setelah istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan sesi paralel yang melibatkan para pengelola program studi dan dosen sesuai dengan fokus pembahasan masing-masing.

    Para kepala dan koordinator program studi diarahkan menuju Ruang 7.010 Lantai 7 UNIKOM untuk mengikuti pembahasan yang lebih terfokus pada kesiapan dan pengembangan kurikulum berbasis OBE, termasuk melihat sejauh mana rancangan kurikulum yang telah disusun memenuhi prinsip OBE. Sementara itu, para dosen melanjutkan kegiatan di Auditorium Lantai 17 UNIKOM dengan pembahasan mengenai implementasi OBE dalam proses pembelajaran.

    Sesi bagi dosen juga diarahkan untuk membahas bagaimana prinsip OBE dapat diimplementasikan dalam menghadapi perubahan ekosistem pendidikan, termasuk perkembangan pembelajaran hibrida dan pemanfaatan AI dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian, transformasi kurikulum tidak hanya berhenti pada dokumen akademik, tetapi dapat diterjemahkan secara nyata ke dalam pengalaman belajar mahasiswa. Pembagian sesi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan transformasi kurikulum dapat dipahami dari berbagai perspektif, baik dari sisi pengelolaan dan pengembangan kurikulum di tingkat program studi maupun dari sisi implementasinya dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh dosen.

    Pendekatan OBE menjadi salah satu fondasi penting dalam proses tersebut karena menempatkan capaian pembelajaran sebagai orientasi utama pendidikan. Dengan pendekatan ini, proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada materi yang disampaikan kepada mahasiswa, tetapi juga memastikan kompetensi yang ditargetkan benar-benar dapat dicapai dan diukur.

    Melalui momentum Dies Natalis ke-26, UNIKOM kembali menegaskan komitmennya untuk terus melakukan inovasi dalam pendidikan tinggi. Penguatan kurikulum berbasis OBE, kesiapan menghadapi era AI, serta pengembangan ekosistem digital dan kewirausahaan menjadi bagian dari perjalanan UNIKOM dalam membangun pendidikan tinggi yang relevan dengan perkembangan zaman. Melalui workshop tersebut, UNIKOM juga terus berupaya menghadirkan kurikulum masa depan yang adaptif, berorientasi pada capaian pembelajaran, responsif terhadap perkembangan AI, mendukung terwujudnya Campus AI Ready, memperkuat arah Digital Entrepreneurial University, serta mampu melahirkan digital leaders berkelas dunia. (Direktorat Hms & Pro)