BANDUNG, UNIKOM — Inovasi pembelajaran terus dikembangkan Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) untuk memastikan mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan pengetahuan dalam menjawab berbagai persoalan nyata di masyarakat dan dunia industri. Salah satu inovasi tersebut diinisiasi oleh Dr. Agus Mulyana, S.Kom., M.T., dosen Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) UNIKOM, lulusan Program Doktor Ilmu Komputer IPB University sekaligus Lulusan Terbaik Program Doktor dengan IPK 3,97 pada Wisuda Tahap III Tahun Akademik 2025/2026 di IPB University. Berbekal kompetensi akademik dan pengalamannya di bidang teknologi, Dr. Agus menginisiasi penerapan Capstone Project sebagai model evaluasi akhir semester sekaligus alternatif pengganti Ujian Akhir Semester (UAS) tertulis bagi mahasiswa Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) UNIKOM.
Puncak pelaksanaan Final UAS Capstone Project dilaksanakan pada Senin, 3 Agustus 2026, bertempat di Ruang Kelas 4507, Kampus I UNIKOM. Kegiatan tersebut menjadi tahap akhir dari rangkaian pembelajaran berbasis proyek yang telah dijalani mahasiswa selama satu semester genap 2025-2026. Dalam pelaksanaan final tersebut, setiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan proyek yang telah dikembangkan di hadapan tim penilai. Presentasi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menjelaskan permasalahan yang diangkat, kebutuhan pengguna, inovasi yang ditawarkan, arsitektur teknologi, fungsi prototipe, hingga potensi pengembangan solusi ke depannya.
Setelah seluruh kelompok menyampaikan presentasi, kegiatan dilanjutkan dengan proses penjurian berdasarkan rubrik penilaian Capstone Project yang telah ditetapkan. Penilaian dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan aspek permasalahan dan kebutuhan pengguna, validasi pengguna, inovasi, kesesuaian solusi dengan permasalahan, arsitektur teknis, fungsionalitas prototipe, UI/UX, keamanan, model bisnis, potensi pasar, kemampuan presentasi, serta kemampuan tim dalam menjawab pertanyaan dan mengeksekusi proyek.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pengumuman hasil dan pemenang Capstone Project berdasarkan akumulasi nilai dari seluruh komponen penilaian. Mekanisme tersebut memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk tidak hanya menghasilkan sebuah proyek, tetapi juga mempertanggungjawabkan gagasan dan produk yang dikembangkan secara profesional di hadapan juri.
Capstone Project diterapkan pada sejumlah mata kuliah yang diampu Dr. Agus Mulyana, S.Kom., M.T., yakni Teknologi Internet of Things (IoT), Pemrograman Mobile Android, dan Interaksi Manusia dan Komputer (IMK). Model pembelajaran tersebut dirancang untuk mengakumulasi berbagai materi yang telah dipelajari mahasiswa ke dalam sebuah proyek yang berangkat dari persoalan nyata di lingkungan masyarakat maupun industri.
Menurut Dr. Agus, perubahan dunia teknologi dan industri yang bergerak semakin cepat menuntut perguruan tinggi untuk mengembangkan pola pembelajaran yang lebih adaptif. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali teori dan praktikum, tetapi juga perlu mendapatkan pengalaman dalam mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, bekerja dalam tim, serta memahami orientasi karier dan profesi setelah menyelesaikan pendidikan. “Capstone itu adalah mekanisme akumulasi materi pengajaran dengan pendekatan mini-projek yang berbasis kondisi sosial aktual dari lingkungan atau masyarakat ataupun industri”, jelas Dr. Agus.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak sekadar menyelesaikan tugas untuk memperoleh nilai, tetapi ditantang untuk menemukan dan memahami persoalan yang benar-benar terjadi di sekitar mereka. Persoalan tersebut kemudian dirumuskan menjadi sebuah proyek yang menghasilkan solusi berbasis keilmuan yang telah dipelajari.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menggunakan dua pendekatan utama, yaitu design thinking dan computational thinking. Kedua pendekatan tersebut digunakan untuk membantu mahasiswa memahami permasalahan secara sistematis, merumuskan kebutuhan pengguna, serta mengembangkan solusi yang relevan dan dapat diterapkan.
Menariknya, kelompok mahasiswa dalam Capstone Project tidak dibentuk seperti kelompok tugas pada umumnya. Mereka diarahkan untuk membangun sebuah mini startup, sehingga setiap anggota memiliki peran dan tanggung jawab yang menyerupai struktur organisasi perusahaan. Mahasiswa dapat memposisikan diri sebagai CEO, CTO, CFO, maupun peran lainnya sesuai dengan kebutuhan tim dan proyek yang dikembangkan.
Pendekatan tersebut sekaligus membangun tiga fondasi penting dalam proses pembelajaran mahasiswa, yakni mindset, skillset, dan toolset. Mindset diarahkan untuk membangun pola pikir mahasiswa sebagai calon profesional maupun entrepreneur. Skillset dikembangkan melalui kemampuan lintas bidang, termasuk pemahaman terhadap aspek sosial, ekonomi, teknologi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam menyelesaikan persoalan. Sementara toolset menekankan penguasaan berbagai perangkat dan teknologi terkini yang relevan dengan kebutuhan industri.
Pada pelaksanaan semester ini, terdapat sembilan tim yang mengembangkan solusi teknologi dengan fokus permasalahan yang beragam. Tim AlteraSight mengembangkan solusi IoT monitoring for safety and environment, sementara AQUALYZE berfokus pada smart aquaculture water monitoring. Tim EduAir mengangkat solusi healthy learning-space air monitoring, sedangkan hirup.id mengembangkan connected safety for better living.
Selanjutnya, LadangKu Smart Farming menghadirkan solusi precision farming for a better future. Tim NADIMAX berfokus pada smart health monitoring performance, sementara Pantau Banjir Group mengembangkan sistem early flood detection and faster response. Adapun VeloCity Bandung mengangkat tema smart mobility for efficient activity, dan VitaCheck mengembangkan solusi digital health check for the future.
Keragaman tema tersebut menunjukkan bahwa Capstone Project memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan kompetensi teknologi pada berbagai persoalan aktual, mulai dari pertanian, kesehatan, lingkungan, pendidikan, keselamatan, mitigasi bencana, hingga mobilitas perkotaan. Selain, itu, sistem penilaian Capstone Project disusun secara terukur dengan total bobot 100 persen. Aspek yang dinilai mencakup Problem, SDGs & User Need sebesar 8 persen, User Validation & Evidence sebesar 8 persen, Innovation & Differentiation sebesar 10 persen, serta Solution–Problem Fit sebesar 8 persen. Penilaian juga mencakup Technical Architecture sebesar 10 persen dan Prototype Functionality & Demo dengan bobot 12 persen.
Selain kemampuan teknis dan inovasi, mahasiswa dinilai dari aspek UI/UX & Accessibility sebesar 7 persen, Security, Reliability & Ethics sebesar 7 persen, Business Model & Sustainability sebesar 8 persen, serta Market Potential & Scalability sebesar 7 persen. Kemampuan menyampaikan gagasan melalui Pitch Delivery & Storytelling memperoleh bobot 7 persen, sedangkan Q&A, Team Capability & Execution memiliki bobot 8 persen. Rangkaian kriteria tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut mampu membuat produk yang berfungsi, tetapi juga harus mampu memahami kebutuhan pengguna, melakukan validasi, menunjukkan kebaruan solusi, mempertimbangkan keamanan dan etika, merancang keberlanjutan bisnis, melihat potensi pasar, serta mempertanggungjawabkan gagasannya di hadapan juri.
Dari hasil penilaian, LadangKu Smart Farming berhasil menempati peringkat pertama dengan nilai 86,40, disusul VeloCity Bandung pada peringkat kedua dengan nilai 85,00, dan NADIMAX pada peringkat ketiga dengan nilai 84,80. Ketiga tim tersebut menunjukkan performa terbaik berdasarkan keseluruhan kriteria penilaian yang telah ditetapkan dalam Capstone Project.
Menurut Dr. Agus, hasil penilaian tersebut tidak semata-mata menggambarkan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan sebuah produk, tetapi juga menjadi bagian dari proses untuk mengukur perkembangan kompetensi mahasiswa secara lebih utuh. Pembelajaran diarahkan agar mahasiswa mengalami proses perkembangan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi paham, hingga mampu menjadi terampil. “Studi itu yang diukur deltanya. Dari tidak tahu menjadi tahu, tahu menjadi paham, paham menjadi terampil”, ungkap Dr. Agus.
Model evaluasi tersebut sekaligus menempatkan kemampuan kolaborasi sebagai bagian penting dari capaian pembelajaran. Mahasiswa dilatih membangun komunikasi, koordinasi, kepemimpinan, kemampuan manajerial, administrasi, serta interaksi sosial dalam sebuah tim. Kompetensi tersebut dinilai penting karena dunia kerja menuntut kemampuan bekerja secara kolaboratif dan tidak hanya mengandalkan kemampuan individu. Lebih jauh, Capstone Project diharapkan dapat menjadi bagian dari pembentukan portofolio mahasiswa. Setiap proyek yang dikembangkan tidak dipandang sekadar sebagai tugas perkuliahan, tetapi dapat menjadi rekam jejak kompetensi yang menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi masalah, merancang solusi, membangun produk, bekerja dalam tim, dan mempresentasikan gagasan secara profesional.
Dr. Agus juga menekankan bahwa tujuan pembelajaran tidak semata-mata mengukur kemampuan mahasiswa dalam menjawab soal secara tertulis. Perkembangan mahasiswa perlu dilihat secara lebih holistik melalui aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Karena itu, Capstone Project hadir sebagai alternatif evaluasi yang memberikan ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk menunjukkan potensi dan kompetensinya. Ke depan, Dr. Agus berharap model pembelajaran tersebut dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak praktisi industri, instansi terkait, serta pihak yang berpotensi mendukung pengembangan proyek mahasiswa. Keterlibatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada proses evaluasi, tetapi dapat membuka peluang bagi proyek-proyek terbaik untuk memperoleh pendampingan, inkubasi, bahkan pendanaan sehingga berpotensi berkembang menjadi startup yang sesungguhnya.
Pelaksanaan Final UAS Capstone Project di Ruang Kelas 4507 Kampus I UNIKOM menjadi penanda bahwa proses pembelajaran dapat dikembangkan menjadi pengalaman yang lebih kontekstual, kompetitif, dan berorientasi pada penyelesaian masalah. Melalui presentasi, penjurian, hingga pengumuman pemenang, mahasiswa memperoleh pengalaman yang menyerupai proses profesional dalam mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan sebuah inovasi. Melalui Capstone Project, UAS tidak lagi sekadar menjadi tahap akhir untuk mengukur kemampuan menjawab soal, tetapi menjadi ruang pembuktian kompetensi, kreativitas, kolaborasi, dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia nyata. Dari sembilan tim dengan beragam gagasan dan solusi, diharapkan lahir inovasi yang tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia industri. (Direktorat Hms & Pro)