Tag: kritis

  • Prodi Ilmu Hubungan Internasional Unikom Gelar Simulasi Sidang Internasional Bahas Isu Perubahan Iklim Dan Palestina

    Prodi Ilmu Hubungan Internasional Unikom Gelar Simulasi Sidang Internasional Bahas Isu Perubahan Iklim Dan Palestina

    BANDUNG, UNIKOM – Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) kembali menyelenggarakan kegiatan akademik berbasis praktik melalui Simulasi Sidang Internasional. Bertempat di Auditorium Miracle lantai 4 Kampus I UNIKOM acara yang berlangsung pada hari Selasa dan Rabu, 12–13 Agustus 2025 tersbut,  mengusung dua tema besar yang menjadi perhatian global, yakni “26th Conference of the Parties (COP26) of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) 2021” dan “United Nations General Assembly on Israel’s Occupation of Palestine”.

    Kegiatan tersebut merupakan bagian dari praktikum mata kuliah Simulasi Sidang Internasional yang rutin dilaksanakan setiap semester VI. Melalui simulasi tersebut, mahasiswa dituntut untuk memerankan delegasi berbagai negara anggota PBB, berdiplomasi, menyampaikan argumen, serta menyusun resolusi layaknya sidang internasional sesungguhnya.

    Guru Besar IHI UNIKOM, Prof. Dr. Hj. Aelina Surya, Dra., menegaskan bahwa maksud dan tujuan dari kegiatan simulasi tersebut adalah untuk memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam menghubungkan teori dengan praktik Ilmu Hubungan Internasional. “Melalui simulasi, mahasiswa dapat memahami secara langsung bagaimana sebuah konferensi internasional berlangsung, termasuk dinamika diplomasi, penggunaan bahasa, serta penyampaian persepsi antarnegara di dunia. Kegiatan ini telah menjadi tradisi sejak awal berdirinya Program Studi Ilmu Hubungan Internasional UNIKOM dan hingga saat ini terus dilaksanakan serta dikembangkan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran”, ujar Prof. Aelina.

    Dekan FISIP UNIKOM, Assoc. Prof. Dr. Hj. Dewi Kurniasih, S.IP., M.Si., membuka acara secara resmi, dan menyampaikan, kegiatan tersebut diikuti oleh hampir 60 peserta dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional UNIKOM. Simulasi sidang internasional ini memiliki peran penting dalam memperkuat pembangunan soft skill mahasiswa, khususnya dalam bidang diplomasi dan komunikasi global. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa berlatih menghadapi dinamika pertemuan internasional yang melibatkan delegasi dari berbagai negara. Mereka tidak hanya dituntut untuk menggunakan bahasa Inggris secara praktis, tetapi juga belajar memperkenalkan serta mempertahankan pendapat, menyusun argumen, hingga mengambil keputusan layaknya seorang diplomat” , demikian pungkasnya.

    Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Dr. Dewi Triwahyuni, S.IP., M.Si., dalam sambutannya juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar simulasi, melainkan media pembelajaran strategis untuk mengasah kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi internasional, berpikir kritis, dan menyusun solusi atas isu-isu global.

    Pada hari pertama, tema yang diangkat adalah COP26 UNFCCC yang berfokus pada komitmen negara-negara dalam menghadapi krisis iklim, pengurangan emisi karbon, serta transisi energi berkelanjutan. Mahasiswa berperan sebagai diplomat negara-negara anggota, menyampaikan pandangan nasional, melakukan moderated caucus dan unmoderated caucus, hingga merumuskan kesepakatan bersama.

    Sementara itu, pada hari ke dua, mahasiswa kelas 3 HI-2 menggelar simulasi dengan tema Sidang Majelis Umum PBB tentang Pendudukan Israel atas Palestina. Sidang tersbut menggambarkan dinamika diplomasi internasional dalam membahas isu kemanusiaan, hak asasi manusia, dan upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

    Antusias peserta nampak dalam berbagai sesi, seperti General Speaker List, Caucus, Voting, hingga Press Conference. Para mahasiswa tampil percaya diri, menunjukkan kemampuan retorika, diplomasi, serta kerja sama tim yang kuat. Melalui simulasi tersebut, UNIKOM menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya memahami teori hubungan internasional, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam konteks global. Harapannya, pengalaman ini dapat membekali mahasiswa untuk menjadi diplomat muda yang kritis, solutif, dan berdaya saing di tingkat internasional. (Direktorat Hms & Pro)