BANDUNG, UNIKOM — Dalam rangka Dies Natalis ke-26, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui workshop bertajuk “26 Years of UNIKOM: Reimagining Curriculum for Artificial Intelligence Era Melahirkan Digital Leaders Berkelas Dunia melalui Kurikulum Masa Depan” yang digelar pada Rabu, 12 Agustus 2026. Bertempat di Auditorium Lantai 17 UNIKOM.
Workshop yang digagas oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan bersama Tim Ad Hoc Kurikulum UNIKOM tersebut, secara khusus diarahkan untuk memperkuat pemahaman sivitas akademika mengenai filosofi, urgensi, implementasi, dan evaluasi Outcome-Based Education (OBE) sebagai salah satu fondasi penting dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi. Kehadiran seluruh unsur pimpinan, pengelola program studi, dan dosen dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa transformasi kurikulum merupakan tanggung jawab bersama dan menjadi bagian penting dari arah pengembangan akademik UNIKOM dalam menghadapi era kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., S.E., M.Si., Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya, Assoc. Prof. Dr. Agus Riyanto, S.T., M.T., CSBA, Wakil Rektor III Bidang Riset, Inovasi, dan Akreditasi Assoc. Prof. Dr. Ir. Herman S. Soegoto, MBA, Wakil Rektor IV Bidang Teknologi Digital & ICT, International Program & Center of Excellence Prof. Zainal A. Hasibuan, Ph.D., serta Deputi Wakil Rektor IV Adam Mukharil Bachtiar, S.Kom., M.T., Ph.D., bersama para dekan, ketua program studi, dan seluruh dosen di lingkungan UNIKOM.
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNIKOM, Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., S.E., M.Si., menegaskan bahwa workshop tersebut merupakan bagian dari langkah strategis UNIKOM untuk membangun kesamaan pemahaman dan mindset seluruh sivitas akademika mengenai penerapan kurikulum berbasis OBE. Menurutnya, kurikulum memiliki posisi yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan pendidikan karena menjadi dasar dalam menentukan bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan dan bagaimana kompetensi mahasiswa dibentuk. “Kurikulum adalah jantungnya pendidikan. Dari kurikulum inilah kita menyampaikan kepada masyarakat apa yang menjadi kekuatan dan keunggulan kita. Karena itu, bagaimana kurikulum tersebut disusun dan disajikan menjadi tanggung jawab bersama para pimpinan, dosen, dan seluruh sivitas akademika”, tutur Prof. Umi.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan dan penyempurnaan kurikulum selama ini dilakukan melalui proses di tingkat program studi, kemudian dibawa ke tingkat fakultas untuk mendapatkan masukan dan persetujuan. Berbagai masukan dari pemangku kepentingan juga menjadi bagian penting agar kurikulum yang dihasilkan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan, serta kemajuan teknologi.
Selain itu, Prof. Umi juga menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang saat ini menjadi bagian dari perubahan besar dalam dunia pendidikan. Menurutnya, kehadiran AI merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari sehingga sivitas akademika, khususnya dosen, perlu memiliki kesiapan untuk beradaptasi dan memanfaatkannya secara tepat dalam proses pendidikan. “Ini adalah era digital. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menghadapinya. Yang penting bukan sekadar menggunakan AI, tetapi bagaimana dosen dapat mengantisipasi dan mengarahkan penggunaannya sehingga daya pikir dan kreativitas mahasiswa tetap berkembang”, jelasnya.
Menurut Prof. Umi, pemanfaatan AI tidak seharusnya menghilangkan peran dosen maupun kemampuan berpikir mahasiswa. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran yang dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, adaptif, kolaboratif, serta bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen UNIKOM dalam mendukung terwujudnya Campus AI Ready, yaitu lingkungan kampus yang memiliki kesiapan sumber daya manusia, proses pembelajaran, kurikulum, serta ekosistem akademik dalam menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial. Kesiapan tersebut tidak hanya diarahkan pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan sivitas akademika untuk memanfaatkan AI secara bijak, produktif, etis, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan.
Dengan demikian, transformasi kurikulum yang dilakukan UNIKOM memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar pembaruan dokumen akademik. Kurikulum diarahkan menjadi instrumen untuk membangun ekosistem pendidikan yang mampu menghubungkan kompetensi akademik, penguasaan teknologi, inovasi, kewirausahaan, dan kebutuhan dunia profesional.
Lebih lanjut, Prof. Umi menyampaikan bahwa setelah mendapatkan pemahaman mengenai konsep OBE, para dosen dan pengelola program studi akan melanjutkan proses pengembangan terhadap kurikulum yang telah dipersiapkan. Kurikulum tersebut selanjutnya akan dievaluasi dan dikembangkan dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak, termasuk pihak eksternal, sehingga kurikulum yang dihasilkan benar-benar memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia profesional dan perkembangan teknologi. “Setelah konsep ini diberikan, para dosen akan masuk ke sesi pengembangan untuk mengolah kurikulum yang sudah dipersiapkan. Pada tahap berikutnya, kita akan mengundang pihak eksternal untuk memberikan masukan terhadap kurikulum yang telah disusun”, tambahnya.
Prof. Umi berharap proses tersebut dapat menghasilkan kurikulum yang mampu menjawab tantangan era digital sekaligus mendukung visi UNIKOM dalam mencetak lulusan yang memiliki daya saing global. Ia menegaskan bahwa ke depan seluruh kurikulum di lingkungan UNIKOM diarahkan untuk mengimplementasikan prinsip OBE. “Tidak boleh ada kurikulum di UNIKOM ke depan yang tidak mengimplementasikan prinsip OBE. Kita ingin melalui kurikulum ini lahir digital leaders berkelas dunia”, demikian pungkasnya.
Memasuki agenda utama, sesi talkshow diisi oleh narasumber Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., SE., M.Si., dan Wakil Rektor IV Bidang Teknologi Digital & ICT, International Program & Center of Excellence Prof. Zainal A. Hasibuan, Ph.D., dengan dipandu oleh Deputi Wakil Rektor IV UNIKOM, Adam Mukharil Bachtiar, S.Kom., M.T., Ph.D selaku moderator. Dalam pengantarnya, Adam Ph.D., menjelaskan bahwa pembahasan mengenai kurikulum pada workshop tersebut memiliki keterkaitan erat dengan agenda transformasi AI yang tengah dikembangkan UNIKOM. “Tema kita hari ini masih berkaitan dengan AI. Kalau sebelumnya kita membahas AI secara umum, sekarang kita masuk ke bagaimana AI ditempatkan dalam kurikulum,” ungkap Adam.
Adam menjelaskan bahwa rangkaian workshop dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep OBE secara teoritis, tetapi juga mampu melihat bagaimana prinsip tersebut diterapkan secara nyata dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Sesi awal difokuskan pada pemahaman filosofis mengenai OBE, termasuk perubahan pola pikir yang diperlukan untuk mengimplementasikannya secara konsisten.
Menurut Adam Ph.D., OBE tidak dapat dipandang sebatas pemenuhan administrasi akademik. OBE membutuhkan perubahan cara pandang dalam merancang pendidikan, mulai dari menentukan capaian pembelajaran, menyusun proses pembelajaran, memilih metode asesmen, hingga melakukan evaluasi terhadap ketercapaian kompetensi mahasiswa. “OBE itu bukan hanya administrasi. Ada dokumen, ada evaluasi, tetapi yang paling penting adalah mindset. Kalau mindset kita masih menggunakan pola kurikulum lama, maka kita akan kesulitan untuk benar-benar menerapkan OBE”, jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dibagi ke dalam beberapa sesi dengan fokus yang saling melengkapi. Pada sesi pagi, peserta mendapatkan pemaparan mengenai filosofi dan konsep OBE, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai evaluasi implementasinya. Setelah istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan sesi paralel yang melibatkan para pengelola program studi dan dosen sesuai dengan fokus pembahasan masing-masing.
Para kepala dan koordinator program studi diarahkan menuju Ruang 7.010 Lantai 7 UNIKOM untuk mengikuti pembahasan yang lebih terfokus pada kesiapan dan pengembangan kurikulum berbasis OBE, termasuk melihat sejauh mana rancangan kurikulum yang telah disusun memenuhi prinsip OBE. Sementara itu, para dosen melanjutkan kegiatan di Auditorium Lantai 17 UNIKOM dengan pembahasan mengenai implementasi OBE dalam proses pembelajaran.
Sesi bagi dosen juga diarahkan untuk membahas bagaimana prinsip OBE dapat diimplementasikan dalam menghadapi perubahan ekosistem pendidikan, termasuk perkembangan pembelajaran hibrida dan pemanfaatan AI dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian, transformasi kurikulum tidak hanya berhenti pada dokumen akademik, tetapi dapat diterjemahkan secara nyata ke dalam pengalaman belajar mahasiswa. Pembagian sesi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan transformasi kurikulum dapat dipahami dari berbagai perspektif, baik dari sisi pengelolaan dan pengembangan kurikulum di tingkat program studi maupun dari sisi implementasinya dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh dosen.
Pendekatan OBE menjadi salah satu fondasi penting dalam proses tersebut karena menempatkan capaian pembelajaran sebagai orientasi utama pendidikan. Dengan pendekatan ini, proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada materi yang disampaikan kepada mahasiswa, tetapi juga memastikan kompetensi yang ditargetkan benar-benar dapat dicapai dan diukur.
Melalui momentum Dies Natalis ke-26, UNIKOM kembali menegaskan komitmennya untuk terus melakukan inovasi dalam pendidikan tinggi. Penguatan kurikulum berbasis OBE, kesiapan menghadapi era AI, serta pengembangan ekosistem digital dan kewirausahaan menjadi bagian dari perjalanan UNIKOM dalam membangun pendidikan tinggi yang relevan dengan perkembangan zaman. Melalui workshop tersebut, UNIKOM juga terus berupaya menghadirkan kurikulum masa depan yang adaptif, berorientasi pada capaian pembelajaran, responsif terhadap perkembangan AI, mendukung terwujudnya Campus AI Ready, memperkuat arah Digital Entrepreneurial University, serta mampu melahirkan digital leaders berkelas dunia. (Direktorat Hms & Pro)