BANDUNG, UNIKOM — Memasuki tahap pelaksanaan program di berbagai wilayah pengabdian di Kecamatan Coblong, Kota Bandung, mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) 2026 mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Ke dua yang digelar pada Rabu, 9 September 2026. Bertempat di Auditorium Lantai 4 Kampus I UNIKOM, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan mahasiswa dalam mengimplementasikan berbagai sistem digital yang akan dimanfaatkan oleh masyarakat dan petugas di lapangan.
Kegiatan Bimtek diikuti oleh mahasiswa peserta KKN Berdampak UNIKOM 2026 yang saat ini telah ditempatkan di wilayah pengabdian masing-masing dan mulai menjalankan program kerja bersama masyarakat. Kegiatan dipimpin oleh Wakil Ketua Pelaksana KKN Berdampak UNIKOM 2026, Dr. Agus Mulyana, S.Kom., M.T., dengan menghadirkan pembekalan mengenai implementasi sistem informasi yang mendukung pelaksanaan program pengabdian.
Menurut Dr. Agus, Bimtek kedua merupakan kelanjutan dari pembekalan sebelumnya. Jika Bimtek pertama berfokus pada pengoperasian sistem untuk mendukung aktivitas mahasiswa selama KKN, maka Bimtek kedua diarahkan pada kemampuan mahasiswa dalam memperkenalkan dan mengimplementasikan sistem yang akan digunakan oleh masyarakat. “Pada hari ini kita mengadakan Bimtek ke dua bagi adik-adik mahasiswa terkait bagaimana implementasi aplikasi yang sudah kita siapkan bagi masyarakat sekaligus bagi petugas di lapangan”, tutur Dr. Agus.
Sebelumnya, mahasiswa telah memperoleh pembekalan mengenai penggunaan sistem yang mendukung seluruh tahapan pelaksanaan KKN, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, penilaian, hingga evaluasi. Sistem tersebut juga memungkinkan berbagai aktivitas mahasiswa terdokumentasi secara digital dan terintegrasi.
Melalui pemanfaatan teknologi, keberadaan mahasiswa di lokasi pengabdian dapat dipantau secara lebih terukur, termasuk pendataan peserta, penempatan berbasis geofencing, hingga pencatatan aktivitas harian, perizinan, dan berbagai kondisi lapangan lainnya.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Divisi Bimbingan Konseling, Karir Lulusan, dan Alumni (BKKLA) Dr. Nungki Heriyati, S.S., M.A., selaku anggota Task Force KKN Berdampak UNIKOM sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Menurutnya, seluruh kelompok mahasiswa telah menyusun program kerja bersama DPL dan mulai menjalankan berbagai kegiatan di wilayah masing-masing. “Mahasiswa sudah ditempatkan di posisinya masing-masing dan sudah mulai masuk ke program kerja yang sudah dibuat. Masing-masing kelompok sudah menyampaikan program kerjanya kepada DPL, sudah disetujui, dan mulai dimasukkan juga ke dalam sistem”, ungkap Dr. Nungki.
Dr. Nungki menambahkan bahwa sistem digital yang digunakan dalam KKN Berdampak UNIKOM 2026 memungkinkan proses pemantauan program dilakukan secara lebih terstruktur. Data aktivitas mahasiswa yang tercatat di dalam sistem dapat membantu tim pelaksana dan DPL dalam melihat perkembangan pelaksanaan program secara berkala.
Hingga memasuki pekan ke tujuh dan ke delapan pelaksanaan, sebanyak 32 kelompok mahasiswa telah diterjunkan ke berbagai wilayah dan mulai beradaptasi dengan lingkungan, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, serta menjalankan program kerja universitas, program kerja usulan, maupun program insidental sesuai kondisi di lapangan.
Melalui pelaksanaan Bimtek secara bertahap, UNIKOM terus mendorong lahirnya model KKN yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pemanfaatan sistem digital diharapkan tidak hanya mendukung efektivitas pelaksanaan program, tetapi juga memperkuat pengukuran dampak pengabdian kepada masyarakat secara lebih terukur dan berkelanjutan. (Direktorat Hms & Pro)
BANDUNG, UNIKOM — Dalam memperkuat komitmennya menghadirkan pendidikan tinggi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kecamatan Coblong melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak 2026. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pengelolaan sampah sekaligus membangun ruang pembelajaran bagi mahasiswa melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat.
Fokus utama KKN Berdampak di Kecamatan Coblong mencakup edukasi pemilahan sampah dari sumber, pendampingan masyarakat, penguatan tata kelola, pendataan berbasis teknologi, hingga pengembangan ekonomi sirkular. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari kontribusi UNIKOM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pembangunan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan, pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, aksi terhadap perubahan iklim, serta penguatan kemitraan multipihak. Sebagai bagian dari implementasi program tersebut, UNIKOM secara resmi menurunkan mahasiswa peserta KKN Berdampak ke Kecamatan Coblong pada 12 Agustus 2026. Sekitar 569 mahasiswa dilibatkan untuk berkolaborasi secara langsung dengan masyarakat dan berbagai unsur pemerintahan wilayah dalam menjalankan program pengelolaan sampah yang telah disiapkan.
PIC sekaligus Koordinator Program KKN Berdampak UNIKOM, Dr. Nungki Heriyati, S.S., M.A., menjelaskan bahwa KKN Berdampak merupakan bentuk kolaborasi UNIKOM dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dirancang untuk menghubungkan proses pembelajaran mahasiswa dengan persoalan nyata di masyarakat. “Pada kesempatan ini UNIKOM menerjunkan kurang lebih 569 mahasiswa ke Kecamatan Coblong. Fokus utamanya adalah pengentasan persoalan sampah, khususnya di wilayah Kecamatan Coblong”, jelas Dr. Nungki.
Para mahasiswa akan berkolaborasi dengan unsur kelurahan, petugas pengelolaan sampah, serta masyarakat di tingkat RW dan RT. Kolaborasi tersebut diarahkan terutama untuk memberikan edukasi mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah, sekaligus mendampingi masyarakat agar praktik tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan.
KKN Berdampak sebagai Implementasi SDGs
Pengelolaan sampah yang menjadi fokus KKN Berdampak memiliki keterkaitan langsung dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan. Melalui upaya membangun lingkungan permukiman yang lebih bersih, sehat, tertata, dan berkelanjutan, program ini mendukung SDG 11: Sustainable Cities and Communities. Edukasi pemilahan sampah dari rumah, pengurangan sampah, pemanfaatan kembali material, serta pengembangan ekonomi sirkular juga sejalan dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production.
Di sisi lain, pengurangan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dan pemanfaatan kembali material memiliki relevansi dengan upaya mengurangi dampak lingkungan serta mendukung SDG 13: Climate Action. Sementara keterlibatan UNIKOM, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kecamatan Coblong, kelurahan, RT/RW, masyarakat, serta perangkat daerah terkait mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals.
Mahasiswa Belajar, Masyarakat Mendapat Dampak
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNIKOM sekaligus Ketua Pelaksana KKN Berdampak UNIKOM 2026, Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., S.E., M.Si., menegaskan bahwa KKN Berdampak merupakan rangkaian pembelajaran yang telah dipersiapkan melalui pembekalan mahasiswa dan survei lapangan sebelum mahasiswa diterjunkan ke masyarakat. “Mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas. Melalui KKN Berdampak, mahasiswa belajar melihat kondisi nyata di lapangan, berkolaborasi dengan masyarakat, dan mengimplementasikan soft skill yang mereka miliki”, tutur, Prof. Umi.
Untuk memastikan pelaksanaan KKN berjalan terarah dan terukur, mahasiswa didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). UNIKOM juga menyiapkan sistem digital untuk membantu memonitor aktivitas mahasiswa dan DPL di lapangan. Setiap aktivitas mahasiswa akan dicatat melalui sistem, termasuk lokasi, waktu, jenis kegiatan, serta dokumentasi pelaksanaan. Sistem tersebut dirancang untuk membantu memastikan mahasiswa menjalankan aktivitas sesuai program yang telah ditetapkan sekaligus menjadi bagian dari monitoring dan evaluasi.
Dari sisi akademik, kegiatan KKN Berdampak juga terintegrasi dengan proses pembelajaran melalui skema rekognisi Satuan Kredit Semester (SKS). Dr. Nungki menjelaskan bahwa secara skema, kegiatan KKN dapat direkognisi hingga maksimal 20 SKS, namun penerapannya disesuaikan dengan kebijakan dan kurikulum masing-masing program studi. “Konversi ke SKS itu kurang lebih maksimal 20 SKS, tetapi nanti bergantung dengan program studi. Ada program studi misalnya Manajemen yang mengambil skema 10 SKS, dan beberapa program studi yang memiliki mata kuliah wajib tetap menjalankan perkuliahan pada satu atau dua mata kuliah”, jelasnya.
Berangkat dari Persoalan Nyata
Pengembangan KKN Berdampak UNIKOM dilakukan berdasarkan identifikasi persoalan yang ditemukan di lapangan. Dr. Agus Mulyana, S.Kom., M.T., selaku dosen FTIK UNIKOM yang terlibat dalam pengembangan KKN Berdampak UNIKOM, menjelaskan bahwa KKN Berdampak diposisikan sebagai sebuah proyek sosial yang dikerjakan secara serius dan terstruktur, bukan sekadar kegiatan administratif perguruan tinggi. “Jadi KKN Berdampak ini sesuatu proyek sosial yang bisa kita kerjakan dengan sungguh-sungguh”, ungkap Dr. Agus. Karena itu, pendekatan yang digunakan bukan sekadar membawa solusi dari kampus ke masyarakat, melainkan dimulai dari identifikasi kebutuhan masyarakat atau bottom-up approach.
Dalam konteks pengelolaan sampah, persoalan dipetakan ke dalam tiga bagian, yaitu hulu, tengah, dan hilir. Pada tingkat hulu, persoalan utama yang ditemukan adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. “Problem besarnya adalah di hulu, pemilahan. Sehingga pendekatan yang kami lakukan adalah pendekatan persuasif edukatif,” terang Dr. Agus. Pendekatan tersebut juga dilakukan melalui edukasi, pemberian contoh, pendampingan, dan apresiasi kepada masyarakat yang mulai menerapkan pemilahan sampah.
“Sampah Terdata, Lingkungan Tertata”
Untuk memperkuat tata kelola, UNIKOM menyiapkan pendekatan berbasis teknologi melalui sistem pendataan sampah. Tempat sampah terpilah akan dilengkapi kode identifikasi berbasis QR yang dapat dihubungkan dengan aplikasi mobile. Sistem tersebut dirancang untuk menghubungkan tempat sampah dengan rumah atau pemiliknya sehingga aktivitas pengelolaan sampah dapat tercatat secara lebih sistematis.
Dengan dukungan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI), sistem tersebut dirancang untuk membantu mengidentifikasi kondisi tempat sampah, termasuk volume serta karakteristik sampah organik dan non organik. Data yang terkumpul nantinya dapat membantu petugas menentukan prioritas pengangkutan sekaligus memberikan gambaran mengenai produksi sampah di setiap wilayah. Pada tingkat RT, RW, kecamatan, hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH), data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan dan kebijakan pengelolaan sampah.
Konsep tersebut dirangkum dalam semangat “Sampah Terdata, Lingkungan Tertata.” Menurut Dr. Agus, pendekatan berbasis data penting agar kebijakan tidak hanya dibuat berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan kondisi faktual di lapangan. “Kalau perlu menambah orang, kita punya data. Kalau perlu menambah infrastruktur atau alat angkut, kita punya data operasional yang sudah kita miliki,” jelasnya.
Dari Sampah Menjadi Ekonomi Sirkular
KKN Berdampak UNIKOM juga membawa pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah. Sampah organik berpotensi diolah menjadi pakan maggot, sedangkan sampah non organik dapat disalurkan melalui bank sampah maupun dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai guna. Salah satu contoh yang dipersiapkan adalah pemanfaatan botol bekas menjadi pot tanaman dan bagian dari pengembangan hidroponik. Pemanfaatan tersebut dapat dikolaborasikan dengan program “Buruan Sae” di Kota Bandung.
UNIKOM juga membuka peluang pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses budidaya, seperti sistem penyiraman dan pemupukan berbasis teknologi. “Target besarnya adalah menurunkan volume sampah per hari per wilayah, menaikkan tingkat kesadaran, lalu menghasilkan manfaat baru. Itu yang kita akan bangun, namanya circular economy”, tutur, Dr. Agus.
Kecamatan Coblong Dorong Konsistensi hingga Zero Waste
Camat Coblong, Ratna Rahayu Pitriyati, S.STP., M.Si., menyampaikan apresiasi atas inisiatif UNIKOM yang menjadikan Kecamatan Coblong sebagai salah satu lokus pelaksanaan KKN Berdampak. Menurutnya, persoalan sampah merupakan isu strategis di Kota Bandung yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Kehadiran UNIKOM dinilai dapat memperkuat upaya pemerintah kecamatan, kelurahan, dan masyarakat dalam mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif. “Luar biasa apresiasi sebesar-besarnya kepada UNIKOM yang telah menginisiasi kegiatan yang nantinya pasti akan memberikan kontribusi dan dampak yang luar biasa”, tuturnya.
Ia menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi juga dapat menjadi contoh yang mendorong keterlibatan perguruan tinggi lainnya untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat. Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung pelaksanaan KKN Berdampak. “Mari kita dukung, mari berkolaborasi, mari bekerja sama dan mari sama-sama menciptakan lingkungan yang bersih, asri, bebas dari sampah”, tegasnya.
Lebih jauh, Kecamatan Coblong berharap dampak KKN dapat terus berlanjut setelah mahasiswa menyelesaikan programnya. Konsistensi menjadi salah satu output utama yang diharapkan sehingga pemilahan dan pengelolaan sampah dapat berkembang menjadi budaya masyarakat. “Output yang paling kami inginkan adalah konsistensi. Diharapkan nanti terjadi perubahan dalam pengolahan sampah, bahkan menjadi kecamatan zero waste”, pungkasnya
UNIKOM Bangun Role Model Pengelolaan Lingkungan
Komitmen terhadap pengelolaan lingkungan tidak hanya diarahkan kepada masyarakat, tetapi juga dimulai dari internal UNIKOM. Dr. Agus Mulyana, S.Kom., M.T., menjelaskan bahwa UNIKOM tengah memperkuat tata kelola sampah di lingkungan kampus melalui penyediaan fasilitas pemilahan, edukasi, serta upaya membangun kesadaran dan kepatuhan sivitas akademika.
Di lingkungan UNIKOM, pemilahan diarahkan ke dalam beberapa kategori, yaitu organik, non organik, residu, serta material yang dapat didaur ulang. “UNIKOM harus menjadi role model di internalnya sendiri”, ungkap Dr. Agus. Menurutnya, perubahan perilaku tidak dapat dibangun hanya melalui instruksi. Pendekatan persuasif dan edukatif diperlukan agar pemilahan sampah berkembang dari sekadar kesadaran menjadi kepatuhan dan akhirnya menjadi kebiasaan.
Kolaborasi untuk Dampak yang Berkelanjutan
KKN Berdampak 2026 di Kecamatan Coblong menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat memainkan peran strategis dalam menyelesaikan persoalan masyarakat sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Mahasiswa menjadi bagian dari proses perubahan, dosen berperan dalam pendampingan dan penguatan metodologi, pemerintah menyediakan dukungan kebijakan dan koordinasi wilayah, sementara masyarakat menjadi aktor utama dalam menjaga keberlanjutan program.
Bagi mahasiswa, KKN menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, kepedulian sosial, pemecahan masalah, serta kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan dalam konteks kehidupan nyata. Sementara itu, bagi pemerintah, kolaborasi tersebut diharapkan menghadirkan tambahan sumber daya, gagasan, pendampingan, serta data yang dapat memperkuat pengambilan kebijakan. Sementara bagi masyarakat, program ini diharapkan memberikan pengetahuan, pendampingan, sistem pengelolaan, serta peluang pemanfaatan sampah menjadi sumber daya yang bernilai.
Pada akhirnya, keberhasilan KKN Berdampak tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang diterjunkan atau banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. Dampak yang lebih penting adalah perubahan perilaku masyarakat, berkurangnya volume sampah, tersedianya data, tumbuhnya ekonomi sirkular, serta keberlanjutan sistem yang dibangun setelah program berakhir. Melalui semangat “Sampah Terdata, Lingkungan Tertata”, UNIKOM bersama Kecamatan Coblong berupaya membangun model pengelolaan lingkungan yang menghubungkan pendidikan, teknologi, pemerintah, dan masyarakat dalam satu ekosistem kolaboratif. Dari kampus ke masyarakat, dari sampah menjadi data, dari data menjadi kebijakan, dan dari kolaborasi menjadi dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan. (Direktorat Hms & Pro)
BANDUNG, UNIKOM – Komitmen Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) dalam menghadirkan dosen yang adaptif, inovatif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan tinggi terus membuahkan hasil. Salah satu dosen Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) UNIKOM, Agus Mulyana, S.T., M.T., berhasil lolos dalam Inspiring Lecturer Program (ILP) 2026 yang diselenggarakan oleh Paragon Corp 2026, sebuah program pengembangan kapasitas dosen tingkat nasional dengan proses seleksi yang sangat kompetitif. Program tersebut berfokus pada pelatihan intensif, penyusunan draf proposal riset (proposal drafting), serta pemberian subsidi publikasi ilmiah. Melalui program tersebut, para peserta memperoleh peningkatan kompetensi dalam pengajaran dan penyusunan strategi riset yang berdampak, akses terhadap hibah penelitian dan dukungan publikasi pada jurnal internasional, serta kesempatan membangun jejaring kolaborasi nasional bersama akademisi dari Sabang hingga Merauke.
Turut diikuti oleh ribuan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, proses seleksi kegiatan tersebut dilakukan secara berlapis melalui penilaian rekam jejak pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga visi pengembangan akademik yang akan diwujudkan peserta setelah mengikuti program. Dalam kesempatan wawancara, Agus Mulyana, S.T., M.T., mengungkapkan “seleksinya cukup ketat. Yang dinilai bukan hanya pengalaman mengajar, tetapi juga rekam jejak penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta rencana kontribusi yang akan dilakukan setelah mengikuti program”, ungkap Agus.
Sejak Juni 2026, para peserta mengikuti rangkaian bootcamp, mentoring, coaching, serta berbagai penugasan yang dirancang untuk memperkuat kapasitas dosen dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Menurut Agus, salah satu pembelajaran paling berharga dalam program tersebut adalah bagaimana dosen harus mampu bertransformasi mengikuti karakter generasi saat ini. Seorang dosen tidak lagi cukup hanya menguasai materi perkuliahan, tetapi juga harus mampu menghadirkan semangat, energi positif, serta memahami perkembangan dunia yang terus berubah agar proses pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Di bidang penelitian, peserta dibimbing untuk menyusun roadmap riset yang tidak berhenti pada publikasi atau laporan administratif semata, melainkan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan oleh masyarakat maupun industri. Pendekatan penelitian juga diarahkan agar bersifat multidisiplin dan kolaboratif sehingga mampu menjawab berbagai persoalan nyata. Sementara itu, pada aspek pengabdian kepada masyarakat, ILP menanamkan paradigma baru bahwa pengabdian harus dibangun sebagai kemitraan jangka panjang yang mampu menciptakan perubahan berkelanjutan, bukan sekadar memenuhi kewajiban administrasi.
Program Inspiring Lecturer berlangsung hingga akhir tahun 2026 dengan beberapa tahapan seleksi lanjutan. Dari ribuan peserta, nantinya akan dipilih sejumlah dosen terbaik yang akan tergabung dalam proyek kolaboratif lintas perguruan tinggi di Indonesia untuk mengembangkan berbagai solusi inovatif bagi masyarakat dan industri. Bagi Agus, kesempatan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk menghadirkan perubahan di lingkungan UNIKOM. “Saya ingin membangun ekosistem Tri Dharma yang memiliki visi jelas, saling terintegrasi, dan benar-benar memberikan dampak. Pengajaran harus lebih dekat dengan dunia industri, penelitian harus menghasilkan solusi nyata, dan pengabdian kepada masyarakat harus menjadi proses pemberdayaan yang berkelanjutan”, jelasnya.
Ia menilai bahwa pola pembelajaran di perguruan tinggi perlu terus bertransformasi agar tidak lagi didominasi pendekatan konvensional berbasis teori semata. Kolaborasi dengan dunia industri menjadi kunci untuk mempersiapkan lulusan yang mampu menghadapi dinamika Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan teknologi yang semakin cepat. Selain itu, Agus juga mendorong terbentuknya ekosistem riset yang lebih hidup di lingkungan UNIKOM melalui penguatan kelompok riset, laboratorium, serta kolaborasi lintas disiplin ilmu. Menurutnya, budaya penelitian yang berkelanjutan akan melahirkan inovasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, industri, maupun pembangunan nasional.
Tidak hanya itu, ia berharap seluruh aktivitas Tri Dharma di perguruan tinggi dapat berjalan secara selaras. Materi yang diajarkan di kelas, penelitian yang dilakukan, hingga pengabdian kepada masyarakat harus saling terhubung sehingga mampu menghasilkan dampak yang lebih besar. “Dosen harus menjadi agen perubahan. Pendidikan tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membangun inspirasi, membuka wawasan masa depan, dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan dunia nyata. Yang ingin saya bangun adalah ekosistem yang sehat, hidup, saling menghidupi, dan berdampak”, tuturnya. Keikutsertaan dosen UNIKOM dalam Inspiring Lecturer Program menjadi salah satu bukti nyata komitmen UNIKOM dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan kompetensi dosen. Sejalan dengan visi sebagai Digital Entrepreneurial University, UNIKOM terus mendorong lahirnya pendidik yang inovatif, kolaboratif, serta mampu menghasilkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat, dunia industri, dan kemajuan bangsa. (Direktorat Hms & Pro)
Segenap keluarga besar sivitas akademika UNIKOM mengucapkan Selamat & Sukses kepada Dr. Agus Mulyana, MT. selaku Dosen Program Studi Teknik Komputer UNIKOM, atas pencapaian luar biasa di kancah nasional.
Dr. Agus berhasil lolos seleksi dan terpilih sebagai peserta dalam INSPIRING LECTURER PROGRAM (ILP) 2026 by ParagonCorp.
Dari lebih dari 6.000 dosen hebat di seluruh Indonesia, Dr. Agus Mulyana, MT. berhasil menjadi salah satu perwakilan terbaik yang siap memperkuat kompetensi melalui pelatihan industri, riset, publikasi, dan jejaring nasional.
Semoga prestasi ini menjadi berkah, memberikan kelancaran selama program berlangsung, serta senantiasa menularkan inspirasi bagi seluruh civitas akademika.
Semangat mengabdi dan menginspirasi untuk negeri! 🚀